SANTRI DAN ABANGAN SERTA PRODUK KEBUDAYAANNYA




Disusun Oleh:
1.      Annisa Macfiroh
2.      Pipit Anira
3.      Pawestri Handayani
4.      Fajrani Elina Kurniasari
5.      Muhammad Arif  Rahman



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Suku jawa merupakan salah satu etnis terbesar dunia muslim. Hampir dengan sekian juta penduduk jawa merupakan suku terbesar diindonesia. Dalam sejarah perkembangan islam di pulau Jawa menyebutkan bahwa agama islamyang berasal dari negara tandus di timur tengah itu masuk dan berkembang dengan pesat karena beberapa faktor baik yang dibawa oleh mubalighnya maupun ajaran islam yang santun dan damai, yang paling mencolok pada masyarakat jawa yaitu berdasarkan kereligiusannya. Oleh karena itu banyak terciptanya golongan seperti golongan santri dan abangan.
Maka dari itu dalam makalah ini kami akan membahas secara lebih mendalam tentang apa saja faktor yang menyebabkan  agama islam mudah diterima di jawa, yang akan menghasilkan golongan strata masyarakat yaitu kaum santri dan abangan yang juga akan dijelaskan secara lebih mendalam dan juga akan menghasilkan sebuah interelasi diantara nilai-nilai islam dan jawa yang terkandung, khususnya di bidang kebudayaan. Dan bagaimanakah penjelasannya?
B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian santri dan abangan?
2.      Bagaimanakah keberagamaan santri dan abangan itu?
3.      Bagaimanakah produk dari  santri dan abangan?

C.      
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Santri dan Abangan
Sebelum kita membahas secara lebih mendalam tentang apa itu santri dan abangan kita membahas dahulu Faktor-faktor Yang Menyebabkan Islam Mudah Diterima Di Tanah Jawa sehingga yang pada akhirnya akan menghasilkan sebuah strata di masyarakat yaitu santri dan abangan.
Sebelum masuknya agama islam di Indonesia, agama hindu- budha telah berkembang dan mengakar  dalam kehidupan masyarakat selama 600-700 tahun, akan tetapi agama islam menyebar dengan baik dan pesat karena disebabkan beberapa hal sebagai berikut:
1.      Syarat Masuk Islam Mudah
Sebagaimana telah dicontohkan oleh sunan kalijaga yang meminta masyarakat yang menonton pertunjukan wayangnya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai ganti upahnya. Namun sebelum itu tentu saja para sunan telah berdakwah untuk memantapkan hati masyarakat, sehingga mau masuk islam dengan mengucap dua kalimat syahadat dan tanpa upacara apapun.
2.      Tidak Mengenal Sistem Kasta
Kasta atau pengelompokan masyarakat yang dalam agama hindu kasta yaitu status seseorang yang didapat sesuai pekerjaan dan pangkat, hal tersebut ada mulai agama hindu masuk  ke nusantara sehingga terjadilah kesenjangan sosial di masyarakat. Sedangkan ketika islam masuk ke indonesia dalamislamtidak ada pembagian kelompok masyarakat berdasarkan apapun karena islam mengajarkan ukhuwah (persaudaraan) dalam seluruh golongan masyarakat. Tidak ada pemisah antara si kaya dan si miskin karena Allah dan rosul-Nya mengajarkan bahwa Allah swt mampu membolak-balikan posisi kalian dengan mudahnya maka kita diajarkan untuk menghormati yang lebih lemah dari kita dan tidak membuat kita sombong bila dalam kondisi baik yang Allah berikan, sehingga tak ada satu kumpulan manusia yang derajatnya lebih tinggi dari sekumpulan manusia yang lain seperti dalam sebuah hadis, Abu Hurairoh meriwayatkan bahwa rosulallahbersabda: “sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk atau rupa kamu. Akan tetapi Allah memandang pada hatidan amal perbuatan mu semata.” (HR. Ibn Majjah)[1]
3.      Disebarkan Secara Damai
Mengetahui islam masuk ke nusantara khususnya pulau jawa murni dari ketulusan hati para saudagar-saudagar islam yang mengajarkan atau menularkan keimanannya kepada masyarakat jawa bukan dengan paksaan ataupun peperangan (karena niat awal memang bukan untik syiar tapi berdagang). maka banyak masyarakat yang awalnya hanya  mengagumi menjadi tertarik dan terbuka pintu hatinya untuk masuk islam, selain itu para dai atau pendakwah islam juga bersikap santundan menghormati kebudayan setempat bahkan menggunakannya sebagai media dakwah yang mudah dipahami oleh masyarakat dan bukan hanya itu jalur yang mereka gunakan sebagai dakwah pun relatif menguntungkan bagi masyarakat.
4.      Upacara  Sederhana
Sebelum islam datang, penduduk jawa memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme serta adat yang terdapat di hindu dan budha dan menggunakan seni sebagai bentuk upacara bagi agama dan kepercayaannya, melihat kenyataan ini para wali memodifikasi upacara dan seni mereka sebagai jalan dakwahnya dengan menghilangkan nilai atau unsur yang mengandung kesyirikan, contohnya bagi masyarakat jawa sebelum islam mereka menghormati keluarga atau saudara yang meninggal dengan ngaben (membakar mayat: biaya mahal)  dan memberi sesaji namun wali mengubahnya dengan “nyadran” yang dalam bahasa kawi berarti upacara peringatan hari kematian seseorang. Nyadran bertujuan untuk mendoakan roh leluhur yang telah mendahului berpulang ke rahamtullah, dan mempersembahkan sesajinya di ganti dengan syukuran yang diberikan pada sanak saudara yang hadir dalam acara tersebut.

5.      Runtuhnya kerajaan Majapahit
Islam datang ke jawa bersamaan dengan melemahnyaposisi raja majapahit sebagai kerajaan hindu dijawa, hal itu memberi peluang pada penguasa-penguasa islam di pesisir untuk membangun pusat  kekuasaan yang independen. Dibawah pimpinan sunan ampeldenta,walisongo bersepakat mengangkat raden patah menjadi rajapertama kerajaan demak, kerajaan islam pertama di jawa dengan gelar senopati jimbun ngabdurrohman panembahan palembang sayyidin panatagama, yang dalam menjalankan pemerintahannya terutama di bidang agama dibantu oleh para ulama dan walisongo. Lambat laun daerah ini menjadi pusat agama yang diselenggarakan oleh para wali dan menyebar luas ke seluruh jawa.[2]

Berdasarkan penelitian lapangan di Mojokuto yang dilakukan bulan Mei 1953 sampai bulan September 1954, Geertz[3] menggambarkan tiga varian religius dalam masyarakat jawa yang salah satunya adalah santri. Santri adalah kalangan masyarakat yang sikapnya menitikberatkan pada segi-segi islam dalam sinkretisme tersebut; pada umumnya berhubungan  dengan unsur pedagang (dan juga sebagian petani). Istilah santri pada mulanya dan biasanya dipakai untuk menyebut murid yang mengikuti pendidikan islam. Istilah ini  merupakan perubahan bentuk dari kata “shastri” yang berarti orang yang mengerti kitab-kitab suci (hindu), seorang ahli kitab suci.
Adapun kata “shastri” sendiri diturunkan dari kata “shastra” yang berarti kitab suci, atau karya keagamaan, atau karya ilmiah. Seiring dengan perkermbangan zaman, istilah santri[4] telah mengalami perubahan di Jawa Tengah sampai tahun dua puluhan. Santri semata-mata siswa atau murid sebuah pesantren. Sementara dikota, istilah tersebut mengacu pada para muslimin jawayang tinggal dalam pemukiman disekitar masjid yang dinamakan kauman. Para cendekiawan muslim indonesia menanggapi istilah santri sebagai pembeda yang tegas. Pada umumnya para muslimin indonesia memakai istilah-istilah lain untuk membedakan kedua golongan tersebut. Mereka lebih menyukai menggunakan istilah islam, apakah kolot atau modern serta menggunakan ungkapan “pemeluk yang setia” dan bukan istilah santri.
Menurut J. W. M. Bakker, S. J.  Abangan adalah sebutan bagi pemeluk agama asli Jawa.[5] Clifford Geertz juga memiliki definisi tersendiri untuk Abangan, yaitu sikap yang menitikberatkan segi sinkretisme (paham (aliran) baru yang merupakan perpaduan dari beberapa paham (aliran) yang berbeda untuk mencari keserasian dan keseimbangan) Jawa secara luas dan menyeluruh yang berhubungan dengan unsur petani diantara penduduk.[6] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Abangan adalah golongan masyarakat yang menganut agama Islam, tetapi tidak melaksanakan ajaran secara keseluruhan.
            Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Abangan ialah golongan masyarakat Jawa beragama Islam yang jarang melakukan ajaran Islam dan masih berpegang teguh pada keyakinan animisme dinamisme yang berusaha memadukan kebudayaan Islam dengan kebudayaan Jawa untuk mencari keserasian diantara keduanya.



B.     Keberagamaan Santri dan Abangan
Clifford Geertz [7]membuat kerangka analisis dengan mengklasifikasikan masyarakat Islam-Jawa ke dalam tiga varian, yaitu: abangan, santri, dan priyayi[8] Pembacaan ini, oleh Geertz disandarkan pada asumsi bahwa pandangan dunia Jawa adalah agama Jawa yang dihadapkan pada sistem stratifikasi sosial di Jawa[9]. Artinya ketiga varian keberagamaan masyarakat Jawa dipengaruhi oleh tiga inti struktur sosial yaitu (desa, pasar dan birokrasi pemerintah). Dalam pengamatanya, tiga lingkungan yang berbeda (pedesaan, pasar dan kantor pemerintah) yang dibarengi dengan latar belakang sejarah kebudayaan yang berbeda ( yang berkaitan dengan masuknya agama serta peradaban Hindú dan Islam di Jawa) telah mewujudkan adanya: Abangan (yang menekankan aspek-aspek animistik), Santri (yang menekankan aspek-aspek Islam) dan Priyayi ( yang menekankan aspek-aspek hindú).
Santri yang merupakan salah satu dari substruktur sosial masyarakat Jawa, diasumsikan oleh Clifford Geertz sebagai golongan yang berusaha mengamalkan Islam sesuai dengan ajaran yang pertama datang kepada mereka. Geertz menyebut pula golongan ini adalah Islam yang berada dalam lingkaran fundamentalisme ajaran Islam. Tradisi keagamaan kalangan santri, tidak terbatas pada pelaksanaan yang cermat dan teratur atas pokok peribadatan Islam, tetapi juga suatu keseluruhan yang kompleks dari organisasi sosial, kedermawanan dan politik Islam.
Sementara itu dalam Keberagamaan Abangan ditandai dengan masih dilakukannya tradisi pra Islam. Contohnya saja pada masa itu, roh-roh yang disembah orang Jawa pada umumnya disebut hyang atau yang yang berarti "Tuhan". Terkadang orang Jawa juga berkata Hyang Maha Kuwasa (Tuhan Yang Maha Kuasa). Shalat pun dalam Jawa sering disebut dengan sembahyang yang terdiri dari dua kata sembah yang memiliki makna 'penyembahan' dan yang artinya "Tuhan".[10]
Menurut Clifford Geertz Abangan dianut para petani. Karena petani merupakan mata pencaharian masyarakat pedesaan yang mana waktu itu penyebaran Islam dimulai dari pesisir dan hanya difokuskan di pusat, sehingga tidak sampai ke pelosok. Kebanyakan golongan Abangan tidak taat agama karena mereka sangat memegang teguh tradisinya.
            Tradisi Abangan meliputi upacara perjalanan penyembahan roh halus, upacara cocok tanam, dan tata cara pengobatan yang semuanya itu berdasar pada roh baik dan roh jahat. Upacara pokok dalam agama Jawa adalah slametan. Upacara ini merupakan acara agama yang paling umum yang dilakukan para Abangan. Slametan merupakan penggabungan mistik dan sosial dari orang yang ikut serta dalam slametan tersebut.
Abangan lebih cenderung menyebut diri mereka kejawen (orang Jawa atau bersifat kejawaan yang seakan mengisyaratkan identitas autentik yang benar-benar Jawa). Alasan ini didasarkan bahwa orang-orang abangan ialah orang tanpa agama, sementara kejawen mengklaim mereka memiliki seperangkat keyakinan koheren. Jika dilihat dari sisi santri, Abangan atau kejawen terkadang dianggap sekedar pengikut sekte kebatinan ketimbang kategori sosial yang lebih luas. Banyak orang beranggapan bahwa Abangan ini sudah menurun populasinya.[11]
C.     Produk-Produk Budaya Santri dan Abangan
Produk budaya santri yang dibahas disini salah satunya adalah system pendidikan santri. Di pusat system sekolah tradisional terdapat pondok, yang sering kali juga disebut pesantren. Sebuah pondok terdiri dari seorang guru pemimpin, umumnya seorang haji yang disebut kyai, dan sekelompok murid yang disebut santri.[12]
Pola pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren erat kaitannya dengan tipologi pondok pesantren itu sendiri. Dalam melaksanakan proses pendidikan, sebagian besar pesantren menggunakan beberapa system pendidikan dan pengajaran yang bersifat tradisional. Pemahaman system yang bersifat tradisional adalah lawan dari system yang modern. System tradisional adalah system yang berangkat dari pola pengajaran yang sangat sederhana, yakni pola pengajaran sorogan, bandongan, wetonan dan musyawarah dalam mengkaji kitab-kitab agama yang ditulis oleh para ulama zaman abad pertengahan dan kitab-kitab itu dikenal dengan istilah “kitab kuning”.[13]
Kelebihan lembaga pendidikan pesantren, cenderung dapat diterima sebagai lembaga pendidikan alternative oleh semua golongan. Karena, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sejalan dengan struktur penyebaran umat.[14]
Sedangkan kelemahan dan kekurangan lembaga pendidikan pesantren ini diantaranya adalah belum mampu mencapai tujuan pendidikannya secara maksimal. Misalnya dalam mencetak kader ulama yang sekaligus memimpin umat dan bangsa, pesantren belum mempunyai sarana dan prasarana yang memadai.[15]
Produk budaya abangan yang dibahas disini salah satunya adalah budaya slametan. Slametan merupakan upacara dasar yang inti disebagian masyarakat jawa. Dimana pandangan dunia abangan lebih menonjol. Pada beberapa peristiwa, slametan itu mungkin mencakup keseluruhan upacara seperti pesta perkawinan.[16]
Slametan dimaknai sebagai sebuah konsep dan ritual yang selanjutnya dimaknai dalam bingkai yang lebih luas, yakni penciptaan tata, tertib, aman (selamat), dan wilujeng (selamat). Bahkan Orde Baru yang syarat dengan tradisi jawa menginterpretasikan konsep ini dengan menciptakan satuan-satuan pengamanan dengan maksud menciptakan ketetertiban dengan dalih keselamatan bangsa.
Adapun produk-produk atau praktek dari kaum abangan yang lainnya antara lain yaitu[17]:
1.      Tahlilan
Abangan melakukan tahlilan, seperti orang islam pada umumnya. Namun, terkadang penyebutan nama Allah disebut dengan Hyang Maha Kuwasa (Tuhan Yang Maha Kuasa).
2.      Sholawatan
Pada umumnya sholawatan digunakan untuk mensyiarkan nada-nada Islam yang teksnya berupa huruf Arab. Dalam abangan, sholawatan berupa teks huruf Jawa. Contohnya: lir-ilir, dan padang (m)bulan.   
3.      Zikir
Antara Islam dan Abangan tidak ada perbedaan, zikirnya sama. Tetapi dalam wirid, abangan terpacu dalam kitab nenek moyang zaman dulu. Diantara nama kitab itu adalah Serat Pamoring Kawula Gusti (mengutarakan pokok ajaran Wirid Hidayat Jati).[18]
4.      Tari Tayuban
Tari tayuban adalah tarian yang dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan yang diiringi dengan gamelan dan tembang, biasanya untuk meramaikan pesta perkawinan.
5.      Wayang kulit
Wayang kulit dalam Abangan biasa disebut dengan wayangan. Wayangan adalah sebuah pertunjukan yang berlangsung semalam suntuk yang dipimpin oleh seorang dalang yang memainkan boneka kulit.[19] Kisah-kisah yang dipentaskan sebagian besar adalah episode-episode yang diambil dari epos Mahabarata dari India. Sedangkan kisah Ramayana kadang-kadang dipentaskan, tetapi kurang populer.[20]



BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Sebelum masuknya agama islam di Indonesia, agama hindu- budha telah berkembang dan mengakar  dalam kehidupan masyarakat selama 600-700 tahun, akan tetapi agama islam menyebar dengan baik dan pesat. Dalam masa selanjutnya muncul suatu tatanan atau golongan di dalam masyarakat yaitu santri dan abangan. Santri adalah kalangan masyarakat yang sikapnya menitikberatkan pada segi-segi islam dalam sinkretisme tersebut; pada umumnya berhubungan  dengan unsur pedagang (dan juga sebagian petani).
Sementara kaum Abangan ialah golongan masyarakat Jawa beragama Islam yang jarang melakukan ajaran Islam dan masih berpegang teguh pada keyakinan animisme dinamisme yang berusaha memadukan kebudayaan Islam dengan kebudayaan Jawa untuk mencari keserasian diantara keduanya.
Disamping itu keadaan tersebut menimbulkan sebuah kbudayaan tersendiri. Kebudayaan adalah suatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi system ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Produk budaya santri salah satunya adalah system pendidikan santri. Sedangkan produk budaya abangan, salah satunya adalah slametan.
Di sisi lain terdapat masyarakat Jawa yang identik dengan aspek kekerabatannya sebagai satu kesatuan masyarakat yang diikat oleh norma-norma hidup karena sejarah, tradisi maupun agama yang akan menghasilkan sebuah interelasi antara nilai-nilai islam dan jawa di bidang kepercayaan.
B.     Kritik dan Saran
Kami sangat menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini belum bisa memenuhi standart yang di tentukan dan jauh dari yang namanya kesempurnaan, oleh sebab itu kami menerima dengan lapang dada kritik dan saran dari pembaca. Karena  sangat diperlukan dalam memperbaiki makalah ini dan penyusunan makalah yang selanjutnya agar lebih baik lagi.


DAFTAR PUSTAKA
Geertz, Clifford. 1964. The Religion Of Java. London: Free Press of Glence.
_____________. 1983. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.
Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam .Volume 7. Nomor 1. Juni 2013.
Kamal, Muhammad Ali Mustofa. Interelasi Nilai Islam dan  Jawa Dalam Berbagai Aspek Kehidupan. Jurnal: Vol. 10. 2016.
Maunah, Binti. 2009. Tradisi Intelektual Santri dalam Tantangan dan Hambatan Pendidikan Pesantren di Masa Depan. Yogyakarta: Teras.
Muchtarom, Zaini. 2002. Islam di Jawa dalam Perspekif Santri dan Abangan. Jakarta: Salemba Diniyah.
Munir Mulkhan. 2000. Islam Murni dalam Masyarakat Petani. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Pranowo, M.Bambang. 2009. Paradigma Baru dalam Kajian Islam Jawa. Pustaka Alvabet.  
Ricklefs, M.C. 2013. Mengislamkan Jawa. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.


[1] https://www.google.com/searchislamtanpakasta.
[2]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada,2003), Hal. 210-211.
[3] Clifford Geertz.1964.The Religion Of Java.London: Free Press of Glence.
[4] M.Bambang Pranowo.2009.Paradigma Baru dalam Kajian Islam Jawa.Pustaka Alvabet. Hal. 299.
[5] Abdul Munir Mulkhan. 2000. Islam Murni dalam Masyarakat Petani. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. Hlm. 363.
[6] Clifford Geertz. 1983. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya. Hlm. 64.
[7]Clifford Geertz.1964.The Religion Of Java.London.Free Press of Glence.
[8]Istilah Abangan, Santri, dan Priyayi bukan merupakan istilah yang diada-adakan oleh Clifford Geertz, tetapi diambil dari penggolongan yang diterapkan oleh masyarakat sendiri. Lihat dalam pendahuluan bukunya, The Religión of Java, terj. Aswab Mahasin: Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, (Bandung: Dunia Pustaka Jaya, 1981), Hlm. 8.
[9] Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam .Volume 7. Nomor 1.Juni 2013. Hlm. 83.
[10] Zaini Muchtarom. 2002. Islam di Jawa dalam Perspekif Santri dan Abangan. Jakarta: Salemba
Diniyah. Hlm. 57.
[11] M.C. Ricklefs. 2013. Mengislamkan Jawa. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta. Hlm. 429.
[12] Clifford Geertz. 1983. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya. Hlm. 241.
[13] Binti Maunah. 2009. Tradisi Intelektual Santri dalam Tantangan dan Hambatan Pendidikan Pesantren di Masa Depan. Yogyakarta: Teras. Hlm. 29.
[14] Ibid. Hlm. 28.
[15] Ibid. Hlm. 28.
[16] Clifford Geertz. Op Cit.., Hlm. 17.
[17] Ibid. Hlm 431
[18] Simuh. Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsito: suatu studi terhadap serat Wirid Hidayat Jati. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press). 1988. Hlm 58  
[19] Clifford Geertz. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 1992. Hlm 58
[20] Ibid.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INTERELASI NILAI ISLAM DAN JAWA DALAM RITUAL DAN KESENIAN

SEBAB-SEBAB PUDARNYA BUDAYA JAWA dan UPAYA PELESTARIANNYA

PERAN PESANTREN DALAM REVITALISASI BUDAYA JAWA DI ERA GLOBAL