PERALIHAN KEPERCAYAAN DAN BUDAYA PRA ISLAM




Disusun oleh :
Yessy Rahman Putri   
Diana Faizatul Ulya  
Shifa Rifkiana             
Nur Laelatus S.R.   
Kamilul Husni Amir
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, terutama di daerah Jawa yang dipengaruhi oleh unsur kebudayaan Hindu Budha. Terbukti dengan adanya peninggalan pra- sejarah berupa prasasti maupun relief atau candi yang tersebar di pulau jawa. Misalnya candi Borobudur, candi prambanan dan candi roro mendut. Hal ini tidak akan lepas dari pengaruh agama Hindu-Budha yang pernah berjaya pada masanya.
Keberadaan agama Hindu dan Budha di Jawa tidak hanya meninggalkan kebudayaan berupa arsitek bangunan, akan tetapi keyakinan juga berpengaruh dan berkembang di Jawa. Sampai saat ini masih menjadi budaya turun temurun bagi masyarakat yang sulit di rubah sebab sudah melekat dan menjadi kebiasaan orang Jawa.
Sejarah telah menceritakan bahwa Hindu dan Buddha pernah menjadi kekuatan yang besar di Jawa pada masa kerajaan-kerajaan kuno. Oleh karena itu, hingga saat ini masih banyak kita jumpai ritual, upacara, atau tradisi-tradisi Jawa yang lekat dengan pengaruh kebudayaan yang telah berkembang di masa dulu, seperti kebudayaan Hindu dan Buddha.
Seiring berjalannya waktu, Islam masuk ke Indonesia khususnya di pulau Jawa. Masuknya Islam ini melalui berbagai cara. Namun, yang paling menonjol yaitu Islam yang disebarkan oleh Walisongo.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana kebudayaan Jawa pada masa hindu?
2.      Bagaimana kebudayaan Jawa pada masa budha?
3.      Bagaimana transisi agama di Jawa?
4.      Kapan Islam masuk ke Jawa?
5.      Bagaimana walisongo menyebarkan Islam di Jawa?






BAB II
PEMBAHASAN
A.    KEBUDAYAAN JAWA MASA HINDU
Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, terutama di daerah Jawa yang dipengaruhi oleh unsur kebudayaan Hindu Budha. Terbukti dengan adanya peninggalan pra- sejarah berupa prasasti maupun relief atau candi yang tersebar di pulau jawa. Misalnya candi borobudur, candi prambanan dan candi roro mendut. Hal ini tidak akan lepas dari pengaruh agama Hindu-Budha yang pernah berjaya pada masanya.
Keberadaan agama Hindu dan Budha di Jawa tidak hanya meninggalkan kebudayaan berupa arsitek bangunan, akan tetapi keyakinan juga berpengaruh dan berkembang di Jawa. Sampai saat ini masih menjadi budaya turun temurun bagi masyarakat yang sulit di rubah sebab sudah melekat dan menjadi kebiasaan orang Jawa.
Sejarah telah menceritakan bahwa Hindu dan Buddha pernah menjadi kekuatan yang besar di Jawa pada masa kerajaan-kerajaan kuno. Oleh karena itu, hingga saat ini masih banyak kita jumpai ritual, upacara, atau tradisi-tradisi Jawa yang lekat dengan pengaruh kebudayaan yang telah berkembang di masa dulu, seperti kebudayaan Hindu dan Buddha.
1.    Masuknya Agama Hindu di Jawa
Beragam pendapat muncul dari para sejarawan tentang masuknya Hindu-Buddha di Indonesia, dan Jawa khususnya. Ada 2 kelompok sejarawan yang memiliki teori tentang pembawa pengaruh India ke Indonesia, yakni kelompok yang menekankan peranan aktif bangsa India dan kelompok yang mengakui peranan aktif bangsa Indonesia, selain adanya peranan aktif bangsa India. Ahmad Khalil dalam bukunya Islam Jawa, Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa menjelaskan bahwa sejak zaman pra Hindu-Buddha, penduduk Indonesia telah melakukan pelayaran hingga ke pulau-pulau lain. Letak geografis Indonesia sebagai lalu lintas perdagangan dunia, memudahkan masuknya budaya-budaya luar ke wilayah Indonesia pada masa itu. Selain itu, produksi rempah-rempah dan kekayaan alam yang lain juga sangat melimpah dan diminati dunia perdagangan. Hubungan perdagangan dengan daerah lain seperti India, Arab, Persia dan Cina telah ada sejak masa itu. Kondisi yang demikian strategis inilah yang menjadikan pangeran-pangeran lokal berkenalan dengan pandangan-pandangan politik dan religius luar, terutama India. Sehingga budaya Hindu-Buddha mulai masuk dan berkembang di Jawa.
Sedangkan menurut C.C. Berg, bermula pada legenda seorang pemuda bernama Aji Saka yang datang dari India dan berhasil menguasai sebuah negeri yang bernama Medangkamulanpada tahun 78 Masehi. Kemudian masyarakat Jawa menggunakan nama Saka untuk mempermudah ingatan perhitungan awal tarikh Jawa. Hitungan ini diawali dengan runtuhnya kepercayaan animisme karena masuknya pengaruh Hindu di Jawa.[1]
Dalam Sejarah Nasional Indonesia II, dijelaskan bahwa pendapat pertama yang muncul tentang masuknya budaya Hindu adalah telah terjadi kolonialisasi oleh orang-orang India di Indonesia. Koloni-koloni orang India ini menjadi pusat penyebaran budaya India (Hindu). Pendapat Bosch ini dikenal dengan hipotesa Ksatria. Akan tetapi, Krom tidak berpendapat bahwa golongan ksatria merupakan golongan yang terbesar di antara orang-orang India yang datang ke Indonesia. Karena mayoritas pendatang adalah para pedagang. Mereka menetap di Indonesia dan kemudian memegang peranan penting dalam penyebaran pengaruh budaya India, melalui hubungan mereka dengan para penguasa di Indonesia. Krom mengisyaratkan kemungkinan adanya perkawinan antara para pedagang dengan wanita-wanita Indonesia. Perkawinan demikian merupakan saluran penyebaran pengaruh yang penting. Teori ini kini lebih dikenal dengan hipotesa Vaisya.
Masuknya agama Hindu dan Buddha ke Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan adanya hubungan pelayaran dan perdagangan antara India dan Cina yang melewati wilayah kepulauan di Nusantara. Melalui hubungan dagang ini, pedagang-pedagang Nusantara ikut berperan terutama untuk memasarkan hasil bumi, termasuk hasil hutan dan rempah-rempah.[2]
2.      Pengaruh Hindu di Jawa
Pengaruh agama dan budaya Hindu-Buddha pada budaya Indonesia menurut Prof. Dr. F.D.K. Bosch disebut fecundation (penyuburan), yaitu penyuburan budaya Indonesia oleh budaya Hindu dan Buddha. Kenyataan menunjukkan bahwa budaya Hindu-Budha tidak menghilangkan budaya asli Indonesia. Oleh orang Indonesia, budaya Hindu-Buddha dimodifikasi sesuai dengan keadaan masyarakat. Terjadi banyak akulturasi budaya antara budaya Hindu-Buddha dan Indonesia, yakni di bidang bahasa dan aksara, bidang sosial dan sistem pemerintahan, bidang teknologi bangunan, bidang agama, bidang seni seperti arca, relief, sastra, musik, dan wayang, bidang kalenderisasi, dan bidang filsafat.[3]
Tradisi budaya yang begitu terbuka dan menerima terhadap hal-hal baru pada masyarakat Jawa membawa dampak pada sikap yang tidak serta merta memperlihatkan perlawanan ketika kekuatan baru muncul. Kepercayaan yang baru pun tumbuh beriringan dengan surutnya Animisme dan Dinamisme yang lebih dulu tertanam dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Selain itu, budaya Hindu dan Buddha juga berpengaruh terhadap sastra Jawa. Orang-orang Hindu sengaja ingin mengembangkan agamanya melalui kitab-kitab sastra. Mereka banyak yang membawa buku-buku keagamaannya yang berbahasa Sanskerta ke dalam kehidupan masyarakat Jawa. Akibatnya, beberapa karya sastra Jawa ketika itu banyak memuat ajaran Hindu. Seperti karya sastra Kakawin dan kitab-kitab Parwa, serta karya sastra Jawa yang lain pada masa itu banyak yang memakai kata-kata dalam bahasa Sanskerta yang bersumber dari buku-buku di India.[4]
3.      Budaya Jawa pada masa Hindu
Kegiatan kebudayaan Jawa pada masa ini berupa upacara-upacara, ritual-ritual, dan tradisi-tradisi dalam masyarakat Jawa. Upacara-upacara tersebut dilakukan untuk memperoleh kesejahteraan dari para Dewa.
Di masa Majapahit, para agamawan melaksanakan ritual kerajaan dengan baik, dan menjaga candi-candi yang kebanyakan merupakan tempat pemujaan leluhur. Masyarakat juga melakukan upacara wiwit (permulaan musim tanam) yang diwujudkan pada pemujaan dewi padi, yakni Dewi Sri. Mereka yang hendak menuai padi yang menguning, sebelumnya beberapa bulir padi dipungut dan dibentuk seperti dua orang (melambangkan sepasang pengantin) yang dipertemukan dan diarak pulang, diharapkan nantinya sepasang pengantin padi ini akan mendatangkan panen yang baik. Para petani akan mempersembahkan ikatan-ikatan padi pertama yang disimpan dengan khidmat sampai masa penebaran benih masa berikutnya.
Selain itu, ada banyak upacara lain yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Beberapa di antaranya adalah ritual kesuburan agar manusia dikaruniai keturunan yang banyak. Upacara kurban kerbau yang sampai saat ini masih banyak dijalankan. Pagelaran wayang kulit dengan berbagai ritual yang menyertainya dimana dalang adalah penggerak dunia gaib. Pengkultusan Ratu Kidul yang masih dilakukan beberapa orang hingga saat ini. Upacara perawatan dan penjamasan pusaka (keris) sebagai tanda kebesaran. Upacara keagamaan garebeg dengan penampilan nasi tumpeng (berbentuk kerucut), upacara sekaten, slametan, dan lain sebagainya.[5]
Berkembangnya kepercayaan Hindu dan Buddha tidak hanya hanya terkait ritual keagamaan, akan tetapi hingga ke ranah politik. Satu persatu kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha muncul di berbagai wilayah di Nusantara. Sebut saja kerajaan Kutai, kerajaan Tarumanegara, kerajaan Melayu, kerajaan Sriwijaya, kerajaan Mataram, kerajaan-kerajaan di Bali, kerajaan Singhasari, kerajaan Majapahit, kerajaan Syailendra, dan berbagai kerajaan lainnya.
Ahmad Khalil menjelaskan bahwa para penguasa di Nusantara mengikuti pandangan politik dan religius di India, dimana suatu organisasi kenegaraan yang tersusun secara hirarkis dari pusat ke bagian-bagian yang terkecil, berada dibawah wewenang dan perintah seorang raja-dewa. Oleh para pemangku kekuasaan, gagasan ini dilihat sebagai wahana ideologis yang tepat untuk melegitimasi dan memperluas wewenang mereka, raja-raja Jawa kemudian dikeramatkan sebagai pusat penjelmaan dewa, yaitu sebagai titisan dewa atau pembawa esensi kedewataan di dunia.[6]
4.      Peninggalan-Peninggalan Hindu di Jawa
Berkembangnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu dan Buddha di Nusantara juga meninggalkan berbagai bangunan atau benda benda bersejarah yang ada hingga saat ini.Hindu dan Buddha yang berkembang dengan pesat dan luas di Nusantara, tidak hanya meninggalkan cerita betapa majunya peradaban di Nusantara ini di masa lalu, atau tradisi dan prinsip hidup yang masih terjaga hingga saat ini.
Peninggalah-peninggalan Hindu di Indonesia Khususnya di Pulau Jawa sangat banyak sekali dan kita harus patut bangga, seperti Candi-candi, Kerajaan-Kerajaan, Prasasti-prasasti, Kitap-kitap, dan masih ada lagi.
1.      Candi
-            Candi Jago di Malang Jawa Timur
-            Candi Asu di Magelang Jawa tengah
-            Candi Gunung Wukir di Magelang Jawa Tengah
-            Candi Gunung Sari
-            Candi Cangkuamh di Jawa Barat
-            Candi Gedong Songo di  Semarang Jawa Tengah
-            Candi Pringapus di Kabupaten Temanggung
-            Candi Sukuh di Surakarta Jawa Tengah
-            Candi Cetho di Kabupaten Karanganyar.
2.      Kerajaan Hindu di Jawa
-            Kerajaan Tarumanegara di Bogor, Jawa Barat
-            Kerajaan Mataram Kuno di Jawa tengah
-            Kerajaan Singasari di Jawa Timur
3.      Prasasti Hindu di Jawa
-            Prasasti Ciaruteun di Bogor, Jabar
-            Prasasti Jambu di Bogor, Jabar
-            Prasasti Canggal di  Magelang, Jateng
-            Prasasti Muara Cianten di Bogor, Jabar
-            Prasasti Pasir Awi di Leuwiliang,  Bogor, Jabar
-            Prasasti Kedu di Temanggung, Jateng
-            Prasasti Dinoyo di Malang, Jatim.
4.      Patung Hindu di Jawa
-            Dwarapala di Bogor Jawa Barat
-            Kertanegara di Jawa Timur
-            Ken Dedes di Kediri Jawa Timur
5.      Kitab Hindu di Jawa
-            Cerita Parahayangan
-            Baratayuda
-            Arjunawiwaha.[7]

B.     KEBUDAYAAN JAWA MASA BUDHA
Kebudayaan Jawa merupakan satu dari sekian banyak kebudaan di Indonesia. Hingga saat ini, kebudayaan ini terus berkembang seiring dengan berkembangnya pola hidup dan faktor-faktor dalam kehidupan bermasyarakat. Kebudayaan Jawa disini adalah nilai budaya dalam masyarakat Jawa yang dipandang perlu bagi proses berlangsungnya hidup, karena baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi tindakan-tindakan masyarakat dimana nilai tersebut dianut. Sejarah telah menceritakan bahwa Buddha pernah menjadi kekuatan yang besar di Jawa pada masa kerajaan-kerajaan kuno. Oleh karena itu, hingga saat ini masih banyak kita jumpai ritual, upacara, atau tradisi-tradisi Jawa yang lekat dengan pengaruh kebudayaan yang telah berkembang di masa dulu, seperti kebudayaan Buddha.
1.      Masuknya Agama Budha di Jawa
Pertumbuhan Agama Buddha di Indonesia dilatarbelakangi letak wilayahnya yang strategis yaitu terletak diantara dua benua dan dua samudera. Hal itu yang menyebabkan pada zaman dahulu Indonesia dijadikan sebagai jalur pelayaran yang strategis antara India ke China ataupun sebaliknya. Banyaknya pedagang China dan India melalui Indonesia menyebabkan adanya pengaruh kebudayaan baik dari India maupun dari China. Para pedagang itu juga tidak semata-mata melakukan perdagangan di wilayah Nusantara, akan tetapi mereka juga berperan dalam proses penyebaran agama pada saat itu khususnya Hindu dan Buddha.
Hindu merupakan agama yang di anggap sebagai agama paling tinggi kedudukannya saat itu, karena mereka mengenal system kasta sehingga yang bisa mempelajarinya hanyalah kalangan tertentu saja. Sedangkan Buddha merupakan agama yang tidak mengenal kasta, sehingga dapat menyebar dengan merata tanpa memandang suatu kalangan ataupun kasta tertentu.[8]
Masuknya agama Buddha di Indonesia terjadi sekitar awal abad pertama atau saat dimulainya perdagangan melalui jalur laut. Kerajaan Srivijaya (Sriwijaya) merupakan asal mula peranan kehidupan Agama Buddha di Indonesia, dimulai pada zaman Srivijaya di Suvarnadvipa (Sumatera) pada abad ke-7. Hal ini terlihat pada catatan seorang sarjana dari China bernama I-Tsing yang melakukan perjalanan ke India dan Nusantara serta mencatat perkembangan agama Buddha di sana. Biarawan Buddha lainnya yang mengunjungi Indonesia adalah Atisa, Dharmapala, seorang Profesor dari Nalanda, dan Vajrabodhi, seorang penganut agama Buddha yang berasal dari India Selatan.[9]
Selain kerajaan Sriwijaya, masih banyak kerajaan-kerajaan lain yang bercorak Buddha di Indonesia, seperti kerajaan Tarumanegara, Mataram kuno, dan lain sebagainya. Semua kerajaan itu berperan dalam proses perkembangan agama Buddha di Indonesia, pengaruh India pada masa kerajaan-kerajaan itu sangat terasa.
Di Jawa juga berdiri kerajaan Buddha yaitu kerajaan Syailendra, tepatnya sekarang berada di Jawa Tengah, meskipun tidak sebesar kerajaan Sriwijaya, kerajaan ini meninggalkan beberapa peninggalan penting yaitu candi-candi Buddha yang masih berdiri hingga sekarang, salah satunya adalah Candi Borobudur, warisan kebudayaan bangsa yang amat kita banggakan dan termasuk salah satu dari keajaiban dunia.
Candi ini adalah cerminan kejayaan agama Buddha di zaman lampau. Selain itu ditemukan juga lempengan batu berwarna di satu puing rumah bata yang diperkirakan kamar Bhiksu Buddha. Lempengan batu itu berisi 2 syair Buddhist dalam bahasa Sansekerta yang ditulis dengan huruf Pallawa.
Namun pada perkembagannya kini, pengaruh India kian memudar. Justru pengaruh dari negeri Tionghoa lah yang paling mendominasi agama Buddha sampai saat ini, terbukti dari bentuk bentuk patung, tempat sembahyangnya, maupun seluruh ornamen dalam Agama Buddha saat ini lebih didominasi unsur Tionghoa ketimbang India.
Hal ini di sebabkan oleh banyaknya orang Tionghoa beragama Buddha yang berdagang di Indonesia sejak zaman dahulu, sehingga proses perkembangan Agama Buddha lebih banyak di dominasi oleh kebudayaan orang Tionghoa ketimbang dari India.
2.      Budaya Jawa pada Masa Budha
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur, termasuk sistem agama, adat istiadat, bahasapakaianbangunan, dan karya seniBahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.[10]
Sedangkan kebudayaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi)manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat, keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.
3.      Perkembangan Agama Budha
Perkembangan agama Budha di wilayah Jawa Tengah berdasarkan berita dari prasasti Kalasan, diuraian adanya pemujaan terhadap sakti Budha, yaitu Tara dan didirikan bangunan suci khusus untuk memujanya dinamakan Tarabhavanam atau Candi Kalasan sekarang. Antara pertengahan abad ke-8 sampai ke-10, agama Budha Mahayana berkembang pesat di Jawa Tengah. Banyak candi yang didirikan untuk memuliakan Panca Tathagata dan Dhyani Bhoddhisattva. Sebagaimana pada Candi Borobudur,  Panca Tathagata merupakan dewata yang dimuliakan, digambarkan kelima wujud Tathagata dan peletakannya sesuai dengan arah mata angin. Terdapat pula ritus keagamaan yang bermula dari Candi Mendut, menuju Candi Pawon, dan puncaknya berlangsung di Stupa Agung Borobudur.  Masih terdapat banyak candi-candi lainnya yang menjadi ritus keagamaan saat itu.[11]
Candi-candi penting lainnya yang bernapaskan Budha Mahayana adalah Candi Sari, Plaosan Lor, Lumbung, Sajiwan, dan Banyunibo. Dalam periode yang hampir bersamaan, di wilayah Jawa Tengah disusun pula kitab Jawa Kuno yaitu Sanghyang Kamahayanikan (SHK), yang memuat tentang kesesuaian arsitektur, relief, dan juga arca-arca di Candi Borobudur. Terdapat pula uraian tentang visualisasi dari ajaran Yogacara, yakni suatu prinsip yang menonjolkan praktik yoga demi memperoleh pengetahuan tertinggi yang merupakan pembuka jalan untuk mencapai keBudhaan. Selain candi, terdapat pula goa yang dipergunakan para bhiksu dan kaum agamawan budha lainnya untuk melakukan meditasi.
Perkembangan agama Budha selanjutnya hingga masa kerajaan Kediri dan Panjalu masih belum diketahui secara baik, karena sumber-sumber yang terbatas. Selanjutnya, data-data peninggalan agama Budha baru diperoleh kembali dalam zaman Singasari dan Majapahit.
4.      Peninggalan Sejarah Pada Masa Buddha
Beberapa peninggalannya seperti  prasasti-prasasti, candi-candi, arca-arca, dan ada banyak karya sastra yang menjadi dokumen sejarah pada masa itu.
1.      Prasasti
-            Prasasti Yupa, prasasti Ciareteun
-            Prasasti Kebun Kopi
-            Prasasti Koleangkak
-            Prasasti Tugu
-            Prasasti Pasir Awi
-            Prasasti Muara Cianten
-            Prasasti Cidanghiang
-            Prasasti Lebak
-            Prasasti Kanuhuran
-            Prasasti Talang Tuo dan lain sebagainya.
2.      Candi
-            Candi Borobudur
-            Candi Prambanan
-            Candi Muara Takus
-            Candi Mendut
-            Candi Plaosan
-            Candi Sewu dan candi-candi lainnya.
3.      Arca
-            Arca Rajarsi
-            Arca Wisnu Cibuaya I
-            Arca Wisnu Cibuaya II
-            Arca Ganesha
4.      Karya sastra yang menjadi dokumen sejarah pada masa itu
-            Baratayuda yang merupakan karya terjemahan Mpu Sedah dari Epos India Mahabarata.
-            Gubahan sastra keagamaan Ramayana dan Mahabarata dalam berbentuk puisi yang disebut serat Kakawin.
-            Serat Negarakertagama dan Sutasoma karya Mpu Tantular
-            Arjunawiwaha Kakawin karya Mpu Kanwa.
-            Kresnayana Kakawin karya Mpu Triguna.
C.     PROSES TRANSISI AGAMA YANG ADA DI MASYARAKAT JAWA
Masuk dan berkembangnya agama Hindu-Budha sejak awal abad ke-5 Masehi menyebabkan munculnya Negara-negara tradisional (kerajaan) yang bercorak Hindu-Budha di Kepulauan Indonesia.[12] Itulah yang membuat budaya di Jawa kental dengan pengaruh Hindu-Budha.
Sebelum Islam masuk ke tanah Jawa, mayoritas masyarakat Jawa menganut kepercayaan Animisme, Dinamisme, Hindu, dan Budha. Animisme berasal dari bahasa latin yaitu anima yang berarti roh, kepercayaan Animisme adalah kepercayaan terhadap benda baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa mempunyai roh. Tujuan beragama dalam Animisme adalah mengadakan hubungan baik dengan roh-roh yang ditakuti dan dihormati itu dengan senantiasa berusaha menyenangkan hati mereka. Dinamisme berasal dari bahasa Yunani dinamos yang mempunyai arti kekuatan atau daya, kepercayaan Dinamisme adalah kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup.
Penganut Animisme dan Dinamisme melakukan ritual menggunakan sesaji dan mantra. Sesaji dipersembahkan kepada roh yang dituju, sehingga aneka sesaji yang dipilih juga mencerminkan kesenangan roh.[13]
Sesaji dipersembahkan untuk menolak bala, agar ruh atau kekuatan luar biasa itu tidak mengganggu, merusak, atau mendatangkan bencana bagi manusia. Dengan demikian, masyarakat Jawa melakukan ritual tersebut untuk mendapatkan keselamatan.
Masyarakat Jawa melakukan ritual mantra sebagai permohonan pada leluhur yang diyakininya. Sesungguhnya inti mantera adalah doa atau permohonan kepada yang dianggap paling berkuasa. Dikalangan masyarakat Jawa yang memeluk agama Hindu ataupun Budha mempunyai ritual untuk menghormati arwah nenek moyang dengan cara dan sajian-sajian yang berbeda. Pemujaan arwah para leluhur itu sendiri tidak merupakan agama bagi rakyat, tetapi merupakan bagian (unsur) penting dalam ibadahnya. Pemujaan arwah para leluhur adalah sisa dari kehidupan keagamaan pada zaman purba, yang masih bertahan dalam perjalanan sejarah hingga sekarang.[14] Dalam agama Hindu menghormati nenek moyang dengan sajian yang berupa kue pada hari-hari tertentu setelah pembakaran jenazah, dan ritual itu dilakukan sampai turunan ke enam.selama ruh yang meninggal belum bersatu dengan nenek moyangnya maka ia dipercayai masih berkeliaran dalam keadaan menderita. Ruh yang berkeliaran dipercaya dapat mndatangkan bahaya atau gangguan bagi yang masih hidup, sehingga perlu diberi saji-sajian agar ruh yang selamat dan terlepas dari penderitaan, serta tidak mengganggu yang masih hidup[15]
Masyarakat jawa sebelum masa islam, ketika akan melakukan hal yang dianggap sacral atau penting bagi kehidupannya selalu mengawalinya dengan menyediakan sesaji. Hal itu dimaksutkan sebagai media untuk mengajukan permohonan kepada yang punya kekuatan luar biasa.

Suatu agama jika datang di suatu daerah maka harus dengan cara yang baik agar diterima oleh masyarakat setempat.Masa pengaruh Hindu-Budha bersifat terbuka untuk menerima agama apapun dengan pemahaman bahwa semua agama itu baik. Di Jawa, Islam datang dengan proses yang tidak mudah, Islam tersebar di Jawa dengan berbagai cara, yaitu:
a.       Perdagangan
Jalur ini melibatkan banyak pihak, mulai dari rakyat, bangsawan, raja, dan para pedagang. Karena perdagangan merupakan jalur yang menguntungkan banyak pihak dan islamisasi berjalan lancar dan damai.
b.      Perkawinan
Islamisasi melalui perkawinan diperlancar dengan adanya pernikahan antara wanita muslimah dengan bangsawan atau raja. Status sosial, ekonomi dan politik raja dan bangsawan menguntungkan penyebaran islam, karena agama yang dipeluk raja atau bangsawan akan diikuti pula oleh rakyat.[16]
c.       Tasawuf
Masyarakat jawa punya kepercayaan yang sinkretis, sehingga para sufi menyampaikan ajaran telosofi yang sinkretis. Para sufi juga menguasai metode tentang penyembuhan dengan begitu penyampaian ajaran islam bisa lebih mudah diterima oleh masyarakat dan mendorong mereka untuk masuk islam.
d.      Pendidikan
Pada masa walisongo banyak didirikan pesantren yang multi fungsi menekankan pentingnya peran pesantren dalam penyebaran ajaran agama islam maupun pembinaan mental sepiritual masyarakat.
e.       Kesenian
Penyebaran islam menggunakan media kesenian yang telah tumbuh di masyarakat sebelum islam. Sebagian kesenian tersebut berasal dari masa hindu yang kemudian digunakan oleh para walisongo untuk menyampaikan ajaran islam ketengah masyarakat. Seni sebagai gejala yang mempunyai kaitan dengan sistem kepercayaan, dapat dilihat dalam seni musik Jawa.[17]
f.       Politik
Adanya penguasa daerah yang masuk islam, sangat membatu kelancaran islamisasi. Karena apabila penguasa daerah sudah memeluk islam semua maka rakyatnya akan mengikutinya.[18]
Hubungan antara Islam dan budaya Jawa sangatlah lekat sehingga tidak terpisahkan. Islam datang dan berkembang di Jawa dipengaruhi oleh kultur dan budaya Jawa, begitu pula budaya Jawa makin diperkaya oleh khazanah Islam. Dengan demikian, perpaduan antara keduanya melahirkan ciri khas sebagai budaya yang singkretis yakni Islam Kejawen. Dengan begitu, terjadi simbiolosis mutualisme antara Islam dan budaya Jawa. Keduanya dapat berkembang dan diterima masyarakat Jawa tanpa menimbulkan friksi dan ketegangan.
Kejawen secara definitif diterima sebagai seluk beluk pemikiran dalam tradisi jawa yang mengakar pada nilai-nilai terutama diilhami oleh Hindu-Buddha dan pandangan animistik terhadap dunia. Dalam sumber lain, Koentjaraningrat menyebut Kejawen sebagai Agama Jawi yaitu suatu kompleks keyakinan dan konsep-konsep Hindu-Budha yang cenderung ke arah mistik. Lebih jauh, Koentjaraningrat mengemukakan bahwa pandangan yang dianut orang Jawa mengacu pada eskatologi yaitu keyakinan akan adanya dewa-dewa tertentu yang menguasai bagian dari alam semesta dan terwujud dalam berbagai konsep hidup serta kematian, roh penjelmaan orang yang sudah meninggal, benda yang memiliki kekuatan gaib (keramat), dan segenap kekuatan alam semesta. Dalam masyarakat Jawa, bentuk keyakinan ini kemudian diturunkan dari generasi ke generasi secara lisan ataupun dalam bentuk kesusastraan. Istilah Kejawen sendiri kerap disandingkan dengan penamaan lain, yaitu abangan. Abangan memiliki arti harfiah merah dalam bahasa Jawa, lawan dari kelompok lain yaitu putihan. Geerzt dalam Religion of Java menggunakan istilah abangan untuk menggambarkan kelompok varian Islam yang cenderung mengikuti sistem kepercayaan lokal, yaitu sinkretisme tradisi Hindu-Budha dan animisme pra-islam.[19]
Menurut kajian sejarah, masuknya Islam ke tanah Jawa telah mengalami “penyesuaian” terlebih dahulu. Islam yang dibawa oleh pedagang Gujarat merupakan Islam yang telah lama hidup berdampingan dengan masyarakat Hindu di India. Selain itu, masuknya Islam ke Gujarat disebarkan oleh para sufi Persia, dua faktor yang menjadikan Islam mudah diterima di pulau Jawa yang sebelumnya telah mendapat pengaruh Hindu dan Budha. Dalam perjalanannya menuju tanah air, wajah Islam mengalami perubahan sesuai konteks budaya India dan kembali mengalami perubahan ketika bersentuhan dengan budaya Jawa. Sehingga menciptakan Islam kejawen yang bahkan sampai saat ini masih banyak yang menggunakan kepercayaan tersebut.
D.    MASUKNYA ISLAM DI JAWA
Sejak tahun 674 M. Di pantai barat sumatera sudah ada koloni-koloni saudagar yang berasal dari negeri Arab. Pada abad ke-8 M. Di sepanjang pantai barat dan timur pulau sumatera diduga sudah ada komunitas-komunitas Muslim. Hingga kini belum ada kesepakatan di antara para ahli mengenai awal kedatangan Islam ke Jawa. Diantaranya berkisar pada dua persoalan, yaitu: 1. Kapan masuknya Islam dan 2. Darimana datangnya (jamil, 2000).[20]
1.         Islam sudah masuk ke wilayah Jawa semenjak abad XI atas dasar inskripsi di Leran, Gresik. Islam masuk melalui pesisir utara Pulau Jawa, dibuktikannya dengan ditemukannya batu nisan kubur yang bernama Fatimah binti Maimun, yang wafat pada tahun 1082. Dilihat dari namanya, diperkirakan Fatimah adalah keturunan Hibatullah, salah satu dinasti di Persia. Pandangan ini mengundang keberatan berbagai kalangan karena diduga batu nisan tersebut dibawa masuk ke Jawa sesudah tahun yang tertera di dalamnya. Ricklefs lebih jauh menyatakan bahwa yang dikubur di situ bukanlah orang jawa, tetapi kemungkinannya adalah orang luar yang kebetulan melancong di Jawa dan meninggal di sana. Karena ketika orang Jawa yang meninggal mereka akan menggunakan nisan yang berasal dari luar Jawa sehingga kemungkinan batu nisan yang berada di Leran tersebut juga berasal dari luar Jawa sesudah tahun yang tertera di dalam batu nisan tersebut.
2.         Islam sudah berada di jawa semenjak abad XIV berdasarkan batu nisan yang terdapat di Trowulan. Batu nisan tersebut menunjukkan tahun 1368 yang memberi indikasi bahwa pada tahun itu orang Jawa dari kalangan keraton yang sudah memeluk Islam atas perlindungan kalangan keraton. Kenyataan ini memberi petunjuk bahwa kedatangan Islam pada tahun-tahun sebelum itu sudah barang tentu melalui kawasan pesisir yang kemudian menuju ke wilayah pedalaman.
3.         Islam sudah berada di Jawa pada abad XV berdasarkan batu nisan dari makam Maulana Malik Ibrahim yang meninggal pada tahun 1419. Beberapa pandangan menyatakan bahwa ia adalah seorang kaya berkebangsaan persia yang bergerak di bidang perdagangan rempah-rempah. Pandangan lain menyatakan bahwa ia adalah salah seorang di antara wali sembilan yang dianggap penyebar islam di Pulau Jawa.
Di antara ketiga pandangan tersebut, pandangan terakhirlah yang menonjol di kalangan masyarakat luas hingga sekarang. Oleh karena itu makam Maulana Malik Ibrahim selalu dikunjungi oleh masyarakat luas sebagai apresiasi mereka terhadap kepelopornya sebagai penyebar islam serta keberadaannya sebagai wali yang biasanya dianggap memiliki daya linuwih (jamil, 2000).
Dari segi pengislaman di Jawa, maka dapat diketahui bahwa, wilayah Jawa Timur terlebih dahulu menerima Islam. wilayah itu antara lain Trowulan, Gresik, Tuban Ampel, dan lingkungan istana Majapahit. Adapun wilayah Jawa Tengah yang terlebih dulu menerima Islam adalah Jepara, Kudus, dan daerah alas Roban Batang. Jepara dan Kudus mellui tokoh Raden Rahmat, sedangkan alas Roban atau Batang melalui perjalanan Raden Patah.[21]
Asal usul dan rute kedatangan Islam ke jawa terdapat juga teori yang berbeda satu sama lain, yaitu:
1.         Islam masuk ke jawa berasal dari Arab secara langsung. Pendapat ini didasarkan bahwa mayoritas penduduk indonesia berasal dari mazhab syafii, suatu mazhab yang pada waktu itu sangat dominan di wilayah Semenanjung Arabia bagian selatan. Hal ini dikuatkan dengan adanya anggapan bahwa pada waktu itu sudah ada rute pelayaran melalui Persia dan India ke wilayah timur. Pandangan ini dikemukakan oleh Neiman dan dikuatkan oleh Pijnaple. Di kalangan pengamat indonesia, maka Hamka masuk dalam kategori yang menyatakan demikian ini.
2.         Islam masuk ke wilayah jawa melalui jalur India. Pandangan ini diantara lain dikemukakan oleh Snouck Hurgronje ketika memberika kuliah perpisahan di Universitas Leiden. Ia mengatakan bahwa, Sumatra dan Jawa mengenal Islam lewat kontak yang terjadi dengan pedagang-pedagang dari India. Pandangan ini paling tidak didukung oleh tiga hal,yaitu: 1. Adanya orang Islam di wilayah India Selatan. 2. Adanya jalur perdagangan antara India Selatan dengan kepulauan Nusantara. 3. Dan adanya elemen Islam yang amat menonjol dalam kegiatan perdagangan. Pandangan ini didukung dengan adanya batu nisan Malik Ibrahim berasal dari Gujarat. Jhon F. Cady dalam bukunya South East Asia, Its Historical Background mendukung pandangan ini atas dasar adanya orang Gujarat yang banyak mendiami kawasan kota pelabuhan di Pantai Utara Jawa. Dari Gujarat inilah akhirnya Islam menyebar ke Asia Tenggara.
3.         Masuknya Islam ke Jawa melalui Kamboja. Pendapat ini didasarkan pada adanya hubungan antara Kepulauan Nusantara dengan Keraton Campa. Pada tahun 1471 keraton tersebut mengalami kekalahan dari orang Vietnam Utara sehingga keluarga keraton mengungsi wilayah malaka. Dari sini mereka kemudian menlanjutkan perjalanan ke wilayah-wilayah kota pelabuhan di pantai Utara Jawa. Melalui jalur pantai utara lambat laun agama Islam berkembang ke arah selatan.
4.         Islam masuk ke wilayah jawa berasal dari Cina. Pandangan ini didasarkan dari cerita dari Jawa Timur yang berasal dari Serat Kanda yang menyatakan bahwa Raden Patah adalah anak seorang perempuan Cina. Anggapan ini dikuatkan oleh cerita yang beredar di Jawa Barat atau Sejarah Banten yanng menyebutkan Raja Demak sebagai Pati Raja Cina, Hikayat Hasanudin disebutkan dengan nama Cek Ko Po yang berasal dari Mongolia. Dalam Naskah Melayu yang diterbitkan Parlindungan dijelaskan secara terperinci tentang elemen-elemen Cina yang agak menonjol seperti bangunan klenteng-klenteng besar yang konon semula adalah masjid yang dibangun oleh Muslim Cina yang masuk wilayah Indonesiapada masa kerajaan Maritim. Naskah tersebut juga menjelaskan mengenai penyair agama Islam yang ternyata adalah orang Cina. Memang sudah lama terjadi hubungan histori antara kerajaan-kerajaan di jawa dengan kekaisaran Cina.
5.         Islam disebarkan melalui bermacam-macam jalur. Pandangan lain yang lebih bersifat merangkum teori-teori di atas menyatakan bahwa asal usul islam adalah dari para guru sufi yang dalam perjalanan mereka ke wilayah Nusantara dapat melalui lautan Hindia atau melalui jalur perdagangan sutra. Di kawasan Timur Tengah mereka menempuh perjalanan sungai ke kanton, dan dari sinilah mereka menempuh perjalanan seterusnya ke wilayah Campa, Malysia, dan Sumatra. Para guru sufi tersebut berasal dari kebangsaan yang bermacam-macam.
Pemukiman Arab Muslim di China dan Campa telah tumbuh sejak abad 8-9. Jadi, tidaklah mustahil jika pada abad XI telah terdapat komunitas Muslim, seperti dibuktikan adanya makam Islam dan keramik Cina disitus Leran. Temuan tersebut dapat menunjukan bahwa sejak abad XI daerah Leran dan sekitarnya merupakan pusat perdagangan penting di Jawa Timur (Mustopa, 2001).
E.     WALISONGO
Menurut penelitian dari para sejarawan, bahwa keanggotaan dari Dewan Walisanga yang berperan besar di dalam penyebaran ajaran agama Islam di tanah Jawa terdiri dari Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim/Syekh Magribi), Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Giri (Raden Paku), Sunan Gunung Jati (Sayid Zen atau Raden Abdul Qadir), Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim), Sunan Drajat (Maseih Munat atau Raden Qasim), Sunan Kudus (Raden Undung Ja’far Shadiq), Sunan Kalijaga (Raden Syahid), dan Sunan Muria (Raden Umar Syaid).[22]
Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.
Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.
1.      Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi.
Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.
2.      Sunan Ampel
Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang).
Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.
Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
3.      Sunan Giri
Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).
Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.
Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.
Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.
Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.
4. Sunan Bonang
Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban.
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.
Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarahyang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.
5. Sunan Kalijaga
Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.
Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.
Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.
6. Sunan Gunung Jati
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman.
Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.
Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.
Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.
Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.
Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.
7. Sunan Drajat
Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.
Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka iamenggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang.
Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.
8. Sunan Kudus
Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang.
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.
Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.
9. Sunan Muria
Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus
Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.
Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.
Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.






BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Sebelum Islam masuk ke tanah Jawa, mayoritas masyarakat Jawa menganut kepercayaan Animisme, Dinamisme, Hindu, dan Budha.Penganut Animisme dan Dinamisme melakukan ritual menggunakan sesaji dan mantra. Sesaji dipersembahkan kepada roh yang dituju, sehingga aneka sesaji yang dipilih juga mencerminkan kesenangan roh.
Islam datang dengan proses yang tidak mudah, Islam tersebar di Jawa dengan berbagai cara, yaitu: Perdagangan, Perkawinan, Tasawuf, Pendidikan, Kesenian, Politik. Tokoh-tokoh yang sangat berperan menyebarkan Islam di Jawa yaitu Walisongo.
Kepercayaan masyarakat Jawa setelah peralihan agama tersebut yaitu menjadi kepercayaan Islam Kejawen. Dimana masyarakat menjunjung tinggi agama Islam tanpa menghilangkan budaya Jawa yang sudah ada sejak zaman nenek moyang.






DAFTAR PUSTAKA
Abdurrohman. Agama-Agama Di Dunia. Yogyakarta. Hanimdita Offest.
Addien. 2009.  Perkembangan Masyarakat Indonesia Berbagai Zaman. Bandung. PT. Puri Delco.
Amin, Darori. 2000.Islam dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta. Gama Media.
Anasom, dkk. 2004.Membangun Negara Bermoral: Etika Bernegara dalam Naskah Klasik Jawa-Islam. Semarang Pustaka Rizki Putra.
Ernawati, Rus. 2003. Sejarah untuk Kelas 1 SMU. Solo. Penerbit Cempaka Putih.
Irwan, Abdullah. Konstruksi Dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Khalil,Ahmad.2008.islam Jawa, Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa. Malang. UIN Malang Press.
Koentjaraningrat. Kebudayaan Jawa. Jakarta. Balai Pustaka.
Kuntowijoyo. 2006. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta. Tiara Wacana Yogya.
Muljana, Slamet. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta. LKiS Pelangi Aksara.
Purwadi. 2005. Dakwah Sunan Kalijaga. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Respati, Djenar. 2014.  Sejarah Agama-Agama di Indonesia. Yogyakarta. Araska.
Suhandjati,Sri. 2015.Islam dan Kebudayaan Jawa Revitalisasi Kearifan Lokal. Semarang. CV.Karya Abadi Jaya.

 







[1]Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa,(Yogyakarta: Gama Media,2000), hlm 10.
[2]Rus Ernawati, Sejarah untuk Kelas 1 SMU, (Solo: Penerbit Cempaka Putih, 2003), hlm 71.
[3]Rus Ernawati, Sejarah untuk Kelas 1 SMU, (Solo: Penerbit Cempaka Putih, 2003), hlm 72.
[4]Anasom, dkk, Membangun Negara Bermoral: Etika Bernegara dalam Naskah Klasik Jawa-Islam, (Semarang: Pustaka Rizki Putra,2004), hlm 17.

[5] Darori Amin,Islam dan Kebudayaan Jawa,(Yogyakarta: Gama Media,2000), hlm 15.
[6]Ahmad Khalil, islam Jawa, Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa,(Malang: UIN Malang Press,2008), hlm135.
[7]https://www.google.com/search?q=kumpulan+peninggalan-peninggalan+hindu+di+jawa&ie=utf-8&oe=utf-8
[8]Abdullah Irwan, Konstruksi Dan Reproduksi Kebudayaan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar) Hlm 99.

[9]Abdurrohman, Agama-Agama Di Dunia, (Yogyakarta: Hanimdita Offest) Hlm 125.
[10]Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka), hlm 78.
[12] Addien A, Perkembangan Masyarakat Indonesia Berbagai Zaman, Bandung: PT. Puri Delco, 2009, hlm 14.
[13] Sri Suhandjati, Islam dan Kebudayaan Jawa Revitalisasi Kearifan Lokal,(Semarang: CV.Karya Abadi Jaya, 2015), hlm 37.
[14] Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, (Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara, 2005), hlm 251.
[15] Ibid, hlm. 41.
[16]Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, (Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara, 2005), hlm 251.
[17]Kuntowijoyo, Budaya dan Masyarakat, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2006), hlm 77.
[18]Ibid, hlm. 65.
[19]http://antimateri.com/islam-kejawen-dan-relativisme/
[20]Purwadi, Dakwah Sunan Kalijaga,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hal 5.
[21]http://tarrymunawiru.blogspot.co.id/2015/01/masuknya-islam-di-jawa-dan-pengaruhnya.html
[22]Djenar Respati, Sejarah Agama-Agama di Indonesia, (Yogyakarta: Araska, 2014), hlm 119.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBAB-SEBAB PUDARNYA BUDAYA JAWA dan UPAYA PELESTARIANNYA

INTERELASI NILAI ISLAM DAN JAWA DALAM RITUAL DAN KESENIAN

PERAN PESANTREN DALAM REVITALISASI BUDAYA JAWA DI ERA GLOBAL