PERALIHAN KEPERCAYAAN DAN BUDAYA PRA ISLAM
Disusun oleh :
Yessy Rahman Putri
Diana Faizatul Ulya
Shifa Rifkiana
Nur Laelatus S.R.
Kamilul Husni Amir
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya,
terutama di daerah Jawa yang dipengaruhi oleh unsur kebudayaan Hindu Budha.
Terbukti dengan adanya peninggalan pra- sejarah berupa prasasti maupun relief
atau candi yang tersebar di pulau jawa. Misalnya candi Borobudur, candi
prambanan dan candi roro mendut. Hal ini tidak akan lepas dari pengaruh agama
Hindu-Budha yang pernah berjaya pada masanya.
Keberadaan agama Hindu dan Budha di Jawa tidak hanya
meninggalkan kebudayaan berupa arsitek bangunan, akan tetapi keyakinan juga
berpengaruh dan berkembang di Jawa. Sampai saat ini masih menjadi budaya turun
temurun bagi masyarakat yang sulit di rubah sebab sudah melekat dan menjadi
kebiasaan orang Jawa.
Sejarah telah menceritakan bahwa Hindu dan Buddha pernah menjadi
kekuatan yang besar di Jawa pada masa kerajaan-kerajaan kuno. Oleh karena itu,
hingga saat ini masih banyak kita jumpai ritual, upacara, atau tradisi-tradisi
Jawa yang lekat dengan pengaruh kebudayaan yang telah berkembang di masa dulu,
seperti kebudayaan Hindu dan Buddha.
Seiring berjalannya waktu, Islam masuk ke
Indonesia khususnya di pulau Jawa. Masuknya Islam ini melalui berbagai cara.
Namun, yang paling menonjol yaitu Islam yang disebarkan oleh Walisongo.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
kebudayaan Jawa pada masa hindu?
2.
Bagaimana
kebudayaan Jawa pada masa budha?
3.
Bagaimana
transisi agama di Jawa?
4.
Kapan
Islam masuk ke Jawa?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
KEBUDAYAAN
JAWA MASA HINDU
Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, terutama di daerah
Jawa yang dipengaruhi oleh unsur kebudayaan Hindu Budha. Terbukti dengan adanya
peninggalan pra- sejarah berupa prasasti maupun relief atau candi yang tersebar
di pulau jawa. Misalnya candi borobudur, candi prambanan dan candi roro mendut.
Hal ini tidak akan lepas dari pengaruh agama Hindu-Budha yang pernah berjaya
pada masanya.
Keberadaan agama Hindu dan Budha di Jawa tidak hanya meninggalkan
kebudayaan berupa arsitek bangunan, akan tetapi keyakinan juga berpengaruh dan
berkembang di Jawa. Sampai saat ini masih menjadi budaya turun temurun bagi
masyarakat yang sulit di rubah sebab sudah melekat dan menjadi kebiasaan orang
Jawa.
Sejarah telah menceritakan
bahwa Hindu dan Buddha pernah menjadi kekuatan yang besar di Jawa pada masa
kerajaan-kerajaan kuno. Oleh karena itu, hingga saat ini masih banyak kita
jumpai ritual, upacara, atau tradisi-tradisi Jawa yang lekat dengan pengaruh
kebudayaan yang telah berkembang di masa dulu, seperti kebudayaan Hindu dan
Buddha.
1.
Masuknya Agama Hindu di Jawa
Beragam pendapat muncul dari para sejarawan tentang
masuknya Hindu-Buddha di Indonesia, dan Jawa khususnya. Ada 2 kelompok
sejarawan yang memiliki teori tentang pembawa pengaruh India ke Indonesia, yakni
kelompok yang menekankan peranan aktif bangsa India dan kelompok yang mengakui
peranan aktif bangsa Indonesia, selain adanya peranan aktif bangsa India. Ahmad
Khalil dalam bukunya Islam Jawa, Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa menjelaskan
bahwa sejak zaman pra Hindu-Buddha, penduduk Indonesia telah melakukan
pelayaran hingga ke pulau-pulau lain. Letak geografis Indonesia sebagai lalu
lintas perdagangan dunia, memudahkan masuknya budaya-budaya luar ke wilayah
Indonesia pada masa itu. Selain itu, produksi rempah-rempah dan kekayaan alam
yang lain juga sangat melimpah dan diminati dunia perdagangan. Hubungan
perdagangan dengan daerah lain seperti India, Arab, Persia dan Cina telah ada
sejak masa itu. Kondisi yang demikian strategis inilah yang menjadikan pangeran-pangeran
lokal berkenalan dengan pandangan-pandangan politik dan religius luar, terutama
India. Sehingga budaya Hindu-Buddha mulai masuk dan berkembang di Jawa.
Sedangkan menurut C.C. Berg, bermula pada legenda seorang
pemuda bernama Aji Saka yang datang dari India dan berhasil menguasai sebuah
negeri yang bernama Medangkamulanpada tahun 78 Masehi. Kemudian masyarakat Jawa
menggunakan nama Saka untuk mempermudah ingatan perhitungan awal tarikh Jawa.
Hitungan ini diawali dengan runtuhnya kepercayaan animisme karena masuknya
pengaruh Hindu di Jawa.[1]
Dalam Sejarah Nasional Indonesia II, dijelaskan
bahwa pendapat pertama yang muncul tentang masuknya budaya Hindu adalah telah
terjadi kolonialisasi oleh orang-orang India di Indonesia. Koloni-koloni orang
India ini menjadi pusat penyebaran budaya India (Hindu). Pendapat Bosch ini
dikenal dengan hipotesa Ksatria. Akan tetapi, Krom tidak berpendapat
bahwa golongan ksatria merupakan golongan yang terbesar di antara orang-orang
India yang datang ke Indonesia. Karena mayoritas pendatang adalah para
pedagang. Mereka menetap di Indonesia dan kemudian memegang peranan penting
dalam penyebaran pengaruh budaya India, melalui hubungan mereka dengan para
penguasa di Indonesia. Krom mengisyaratkan kemungkinan adanya perkawinan antara
para pedagang dengan wanita-wanita Indonesia. Perkawinan demikian merupakan
saluran penyebaran pengaruh yang penting. Teori ini kini lebih dikenal dengan hipotesa
Vaisya.
Masuknya agama Hindu dan Buddha ke Indonesia tidak dapat
dipisahkan dengan adanya hubungan pelayaran dan perdagangan antara India dan
Cina yang melewati wilayah kepulauan di
Nusantara. Melalui hubungan dagang ini, pedagang-pedagang Nusantara ikut
berperan terutama untuk memasarkan hasil bumi, termasuk hasil hutan dan
rempah-rempah.[2]
2. Pengaruh Hindu di Jawa
Pengaruh agama dan budaya Hindu-Buddha pada budaya Indonesia
menurut Prof. Dr. F.D.K. Bosch disebut fecundation (penyuburan), yaitu penyuburan budaya Indonesia oleh budaya Hindu dan Buddha. Kenyataan
menunjukkan bahwa budaya Hindu-Budha tidak menghilangkan budaya asli Indonesia. Oleh orang Indonesia, budaya Hindu-Buddha dimodifikasi sesuai
dengan keadaan masyarakat. Terjadi banyak akulturasi budaya antara budaya
Hindu-Buddha dan Indonesia, yakni di bidang bahasa dan aksara, bidang sosial
dan sistem pemerintahan, bidang teknologi bangunan, bidang agama, bidang seni
seperti arca, relief, sastra, musik, dan wayang, bidang kalenderisasi, dan
bidang filsafat.[3]
Tradisi budaya yang begitu
terbuka dan menerima terhadap hal-hal baru pada masyarakat Jawa membawa dampak
pada sikap yang tidak serta merta memperlihatkan perlawanan ketika kekuatan
baru muncul. Kepercayaan yang baru pun tumbuh beriringan dengan surutnya
Animisme dan Dinamisme yang lebih dulu tertanam dalam kehidupan masyarakat
Jawa.
Selain itu, budaya Hindu dan Buddha juga berpengaruh
terhadap sastra Jawa. Orang-orang Hindu sengaja ingin mengembangkan agamanya
melalui kitab-kitab sastra. Mereka banyak yang membawa buku-buku keagamaannya
yang berbahasa Sanskerta ke dalam kehidupan masyarakat Jawa. Akibatnya,
beberapa karya sastra Jawa ketika itu banyak memuat ajaran Hindu. Seperti karya
sastra Kakawin dan kitab-kitab Parwa, serta karya sastra Jawa
yang lain pada masa itu banyak yang memakai kata-kata dalam bahasa Sanskerta
yang bersumber dari buku-buku di India.[4]
3. Budaya Jawa pada masa Hindu
Kegiatan kebudayaan Jawa
pada masa ini berupa upacara-upacara, ritual-ritual, dan tradisi-tradisi dalam
masyarakat Jawa. Upacara-upacara tersebut dilakukan untuk memperoleh
kesejahteraan dari para Dewa.
Di masa Majapahit, para
agamawan melaksanakan ritual kerajaan dengan baik, dan menjaga candi-candi yang
kebanyakan merupakan tempat pemujaan leluhur. Masyarakat juga melakukan upacara
wiwit (permulaan musim tanam) yang diwujudkan pada pemujaan dewi padi,
yakni Dewi Sri. Mereka yang hendak menuai padi yang menguning, sebelumnya
beberapa bulir padi dipungut dan dibentuk seperti dua orang (melambangkan
sepasang pengantin) yang dipertemukan dan diarak pulang, diharapkan nantinya
sepasang pengantin padi ini akan mendatangkan panen yang baik. Para petani akan
mempersembahkan ikatan-ikatan padi pertama yang disimpan dengan khidmat sampai
masa penebaran benih masa berikutnya.
Selain itu, ada banyak upacara
lain yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Beberapa di antaranya adalah ritual
kesuburan agar manusia dikaruniai keturunan yang banyak. Upacara kurban kerbau
yang sampai saat ini masih banyak dijalankan. Pagelaran wayang kulit dengan
berbagai ritual yang menyertainya dimana dalang adalah penggerak dunia gaib.
Pengkultusan Ratu Kidul yang masih dilakukan beberapa orang hingga saat ini.
Upacara perawatan dan penjamasan pusaka (keris) sebagai tanda kebesaran.
Upacara keagamaan garebeg dengan penampilan nasi tumpeng (berbentuk
kerucut), upacara sekaten, slametan, dan lain sebagainya.[5]
Berkembangnya kepercayaan
Hindu dan Buddha tidak hanya hanya terkait ritual keagamaan, akan tetapi hingga
ke ranah politik. Satu persatu kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha muncul
di berbagai wilayah di Nusantara. Sebut saja kerajaan Kutai, kerajaan
Tarumanegara, kerajaan Melayu, kerajaan Sriwijaya, kerajaan Mataram,
kerajaan-kerajaan di Bali, kerajaan Singhasari, kerajaan Majapahit, kerajaan
Syailendra, dan berbagai kerajaan lainnya.
Ahmad Khalil menjelaskan
bahwa para penguasa di Nusantara mengikuti pandangan politik dan religius di
India, dimana suatu organisasi kenegaraan yang tersusun secara hirarkis dari
pusat ke bagian-bagian yang terkecil, berada dibawah wewenang dan perintah
seorang raja-dewa. Oleh para pemangku kekuasaan, gagasan ini dilihat sebagai
wahana ideologis yang tepat untuk melegitimasi dan memperluas wewenang mereka,
raja-raja Jawa kemudian dikeramatkan sebagai pusat penjelmaan dewa, yaitu
sebagai titisan dewa atau pembawa esensi kedewataan di dunia.[6]
4.
Peninggalan-Peninggalan Hindu di Jawa
Berkembangnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu dan Buddha
di Nusantara juga meninggalkan berbagai bangunan atau benda benda bersejarah
yang ada hingga saat ini.Hindu dan Buddha yang berkembang dengan pesat dan luas
di Nusantara, tidak hanya meninggalkan cerita betapa majunya peradaban di
Nusantara ini di masa lalu, atau tradisi dan prinsip hidup yang masih terjaga
hingga saat ini.
Peninggalah-peninggalan Hindu di Indonesia
Khususnya di Pulau Jawa sangat banyak sekali dan kita harus patut bangga,
seperti Candi-candi, Kerajaan-Kerajaan, Prasasti-prasasti, Kitap-kitap, dan
masih ada lagi.
1.
Candi
-
Candi Jago di Malang Jawa Timur
-
Candi Asu di Magelang Jawa tengah
-
Candi Gunung Wukir di Magelang Jawa Tengah
-
Candi Gunung Sari
-
Candi Cangkuamh di Jawa Barat
-
Candi Gedong Songo di Semarang Jawa Tengah
-
Candi Pringapus di Kabupaten Temanggung
-
Candi Sukuh di Surakarta Jawa Tengah
-
Candi Cetho di Kabupaten Karanganyar.
2.
Kerajaan Hindu di Jawa
-
Kerajaan Tarumanegara di Bogor, Jawa Barat
-
Kerajaan Mataram Kuno di Jawa tengah
-
Kerajaan Singasari di Jawa Timur
3.
Prasasti Hindu di Jawa
-
Prasasti
Ciaruteun di Bogor, Jabar
-
Prasasti
Jambu di Bogor, Jabar
-
Prasasti
Canggal di Magelang, Jateng
-
Prasasti
Muara Cianten di Bogor, Jabar
-
Prasasti
Pasir Awi di Leuwiliang, Bogor, Jabar
-
Prasasti
Kedu di Temanggung, Jateng
-
Prasasti
Dinoyo di Malang, Jatim.
4.
Patung Hindu di Jawa
-
Dwarapala di Bogor Jawa Barat
-
Kertanegara di Jawa Timur
-
Ken Dedes di Kediri Jawa Timur
5.
Kitab Hindu di Jawa
-
Cerita Parahayangan
-
Baratayuda
-
Arjunawiwaha.[7]
B. KEBUDAYAAN JAWA MASA BUDHA
Kebudayaan Jawa merupakan satu dari sekian banyak
kebudaan di Indonesia. Hingga saat ini, kebudayaan ini terus berkembang seiring
dengan berkembangnya pola hidup dan faktor-faktor dalam kehidupan
bermasyarakat. Kebudayaan Jawa disini adalah nilai budaya dalam masyarakat Jawa
yang dipandang perlu bagi proses berlangsungnya hidup, karena baik secara
langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi tindakan-tindakan masyarakat
dimana nilai tersebut dianut. Sejarah telah
menceritakan bahwa Buddha pernah menjadi kekuatan yang besar di Jawa pada masa
kerajaan-kerajaan kuno. Oleh karena itu, hingga saat ini masih banyak kita
jumpai ritual, upacara, atau tradisi-tradisi Jawa yang lekat dengan pengaruh
kebudayaan yang telah berkembang di masa dulu, seperti kebudayaan Buddha.
1.
Masuknya Agama Budha di Jawa
Pertumbuhan
Agama Buddha di Indonesia dilatarbelakangi letak wilayahnya yang strategis
yaitu terletak diantara dua benua dan dua samudera. Hal itu yang menyebabkan
pada zaman dahulu Indonesia dijadikan sebagai jalur pelayaran yang strategis
antara India ke China ataupun sebaliknya. Banyaknya pedagang China dan India
melalui Indonesia menyebabkan adanya pengaruh kebudayaan baik dari India maupun
dari China. Para pedagang itu juga tidak semata-mata melakukan perdagangan di
wilayah Nusantara, akan tetapi mereka juga berperan dalam proses penyebaran
agama pada saat itu khususnya Hindu dan Buddha.
Hindu
merupakan agama yang di anggap sebagai agama paling tinggi kedudukannya saat
itu, karena mereka mengenal system kasta sehingga yang bisa mempelajarinya
hanyalah kalangan tertentu saja. Sedangkan Buddha merupakan agama yang tidak
mengenal kasta, sehingga dapat menyebar dengan merata tanpa memandang suatu
kalangan ataupun kasta tertentu.[8]
Masuknya
agama Buddha di Indonesia terjadi sekitar awal abad pertama atau saat
dimulainya perdagangan melalui jalur laut. Kerajaan Srivijaya (Sriwijaya)
merupakan asal mula peranan kehidupan Agama Buddha di Indonesia, dimulai pada
zaman Srivijaya di Suvarnadvipa (Sumatera) pada abad ke-7. Hal ini terlihat
pada catatan seorang sarjana dari China bernama I-Tsing yang melakukan
perjalanan ke India dan Nusantara serta mencatat perkembangan agama Buddha di
sana. Biarawan Buddha lainnya yang mengunjungi Indonesia adalah Atisa,
Dharmapala, seorang Profesor dari Nalanda, dan Vajrabodhi, seorang penganut agama
Buddha yang berasal dari India Selatan.[9]
Selain
kerajaan Sriwijaya, masih banyak kerajaan-kerajaan lain yang bercorak Buddha di
Indonesia, seperti kerajaan Tarumanegara, Mataram kuno, dan lain sebagainya.
Semua kerajaan itu berperan dalam proses perkembangan agama Buddha di
Indonesia, pengaruh India pada masa kerajaan-kerajaan itu sangat terasa.
Di
Jawa juga berdiri kerajaan Buddha yaitu kerajaan Syailendra, tepatnya sekarang
berada di Jawa Tengah, meskipun tidak sebesar kerajaan Sriwijaya, kerajaan ini
meninggalkan beberapa peninggalan penting yaitu candi-candi Buddha yang masih
berdiri hingga sekarang, salah satunya adalah Candi Borobudur, warisan
kebudayaan bangsa yang amat kita banggakan dan termasuk salah satu dari
keajaiban dunia.
Candi
ini adalah cerminan kejayaan agama Buddha di zaman lampau. Selain itu ditemukan
juga lempengan batu berwarna di satu puing rumah bata yang diperkirakan kamar
Bhiksu Buddha. Lempengan batu itu berisi 2 syair Buddhist dalam bahasa
Sansekerta yang ditulis dengan huruf Pallawa.
Namun
pada perkembagannya kini, pengaruh India kian memudar. Justru pengaruh dari
negeri Tionghoa lah yang paling mendominasi agama Buddha sampai saat ini,
terbukti dari bentuk bentuk patung, tempat sembahyangnya, maupun seluruh
ornamen dalam Agama Buddha saat ini lebih didominasi unsur Tionghoa ketimbang
India.
Hal
ini di sebabkan oleh banyaknya orang Tionghoa beragama Buddha yang berdagang di
Indonesia sejak zaman dahulu, sehingga proses perkembangan Agama Buddha lebih
banyak di dominasi oleh kebudayaan orang Tionghoa ketimbang dari India.
2.
Budaya Jawa pada Masa Budha
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa
Sanskerta yaitu buddhayah,
yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai
hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh
sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya
terbentuk dari banyak unsur, termasuk sistem agama, adat istiadat, bahasa, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri
manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara
genetis.[10]
Sedangkan kebudayaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu
hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi)manusia seperti kepercayaan,
kesenian, dan adat istiadat, keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk
sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang
menjadi pedoman tingkah lakunya.
3.
Perkembangan Agama Budha
Perkembangan agama Budha di wilayah Jawa Tengah berdasarkan berita dari
prasasti Kalasan, diuraian adanya pemujaan terhadap sakti Budha, yaitu Tara dan
didirikan bangunan suci khusus untuk memujanya dinamakan Tarabhavanam atau Candi Kalasan
sekarang. Antara pertengahan abad ke-8 sampai ke-10, agama Budha Mahayana
berkembang pesat di Jawa Tengah. Banyak candi yang didirikan untuk memuliakan
Panca Tathagata dan Dhyani Bhoddhisattva. Sebagaimana pada Candi
Borobudur, Panca Tathagata merupakan dewata yang dimuliakan,
digambarkan kelima wujud Tathagata dan peletakannya sesuai dengan arah mata
angin. Terdapat pula ritus keagamaan yang bermula dari Candi Mendut, menuju Candi
Pawon, dan puncaknya berlangsung di Stupa Agung Borobudur. Masih terdapat banyak candi-candi lainnya
yang menjadi ritus keagamaan saat itu.[11]
Candi-candi penting lainnya yang bernapaskan Budha Mahayana adalah Candi
Sari, Plaosan Lor, Lumbung, Sajiwan, dan Banyunibo. Dalam periode yang hampir
bersamaan, di wilayah Jawa Tengah disusun pula kitab Jawa Kuno yaitu Sanghyang Kamahayanikan (SHK),
yang memuat tentang kesesuaian arsitektur, relief, dan juga arca-arca di Candi
Borobudur. Terdapat pula uraian tentang visualisasi dari ajaran Yogacara, yakni suatu prinsip yang
menonjolkan praktik yoga demi
memperoleh pengetahuan tertinggi yang merupakan pembuka jalan untuk mencapai keBudhaan. Selain candi, terdapat
pula goa yang dipergunakan para bhiksu dan
kaum agamawan budha lainnya untuk melakukan meditasi.
Perkembangan agama Budha selanjutnya hingga masa kerajaan Kediri dan
Panjalu masih belum diketahui secara baik, karena sumber-sumber yang terbatas.
Selanjutnya, data-data peninggalan agama Budha baru diperoleh kembali dalam
zaman Singasari dan Majapahit.
4.
Peninggalan Sejarah Pada Masa
Buddha
Beberapa peninggalannya seperti
prasasti-prasasti, candi-candi, arca-arca, dan ada banyak karya sastra
yang menjadi dokumen sejarah pada masa itu.
1.
Prasasti
-
Prasasti
Yupa, prasasti Ciareteun
-
Prasasti
Kebun Kopi
-
Prasasti
Koleangkak
-
Prasasti
Tugu
-
Prasasti
Pasir Awi
-
Prasasti
Muara Cianten
-
Prasasti
Cidanghiang
-
Prasasti
Lebak
-
Prasasti
Kanuhuran
-
Prasasti
Talang Tuo dan lain sebagainya.
2.
Candi
-
Candi
Borobudur
-
Candi
Prambanan
-
Candi
Muara Takus
-
Candi
Mendut
-
Candi
Plaosan
-
Candi
Sewu dan candi-candi lainnya.
3.
Arca
-
Arca
Rajarsi
-
Arca
Wisnu Cibuaya I
-
Arca
Wisnu Cibuaya II
-
Arca Ganesha
4.
Karya
sastra yang menjadi dokumen sejarah pada masa itu
-
Baratayuda yang
merupakan karya terjemahan Mpu Sedah dari Epos India Mahabarata.
-
Gubahan
sastra keagamaan Ramayana dan Mahabarata dalam berbentuk puisi
yang disebut serat Kakawin.
-
Serat Negarakertagama dan Sutasoma karya Mpu Tantular
-
Arjunawiwaha Kakawin karya Mpu Kanwa.
-
Kresnayana Kakawin karya
Mpu Triguna.
C.
PROSES
TRANSISI AGAMA YANG ADA DI MASYARAKAT JAWA
Masuk dan
berkembangnya agama Hindu-Budha sejak awal abad ke-5 Masehi menyebabkan
munculnya Negara-negara tradisional (kerajaan) yang bercorak Hindu-Budha di
Kepulauan Indonesia.[12]
Itulah yang membuat budaya di Jawa kental dengan pengaruh Hindu-Budha.
Sebelum Islam
masuk ke tanah Jawa, mayoritas masyarakat Jawa menganut kepercayaan Animisme,
Dinamisme, Hindu, dan Budha. Animisme berasal dari bahasa latin yaitu anima
yang berarti roh, kepercayaan Animisme adalah kepercayaan terhadap benda baik
yang bernyawa maupun tidak bernyawa mempunyai roh. Tujuan beragama dalam
Animisme adalah mengadakan hubungan baik dengan roh-roh yang ditakuti dan
dihormati itu dengan senantiasa berusaha menyenangkan hati mereka. Dinamisme
berasal dari bahasa Yunani dinamos yang mempunyai arti kekuatan atau daya,
kepercayaan Dinamisme adalah kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga
atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia
dalam mempertahankan hidup.
Penganut
Animisme dan Dinamisme melakukan ritual menggunakan sesaji dan mantra. Sesaji
dipersembahkan kepada roh yang dituju, sehingga aneka sesaji yang dipilih juga
mencerminkan kesenangan roh.[13]
Sesaji
dipersembahkan untuk menolak bala, agar ruh atau kekuatan luar biasa itu tidak
mengganggu, merusak, atau mendatangkan bencana bagi manusia. Dengan demikian,
masyarakat Jawa melakukan ritual tersebut untuk mendapatkan keselamatan.
Masyarakat Jawa
melakukan ritual mantra sebagai permohonan pada leluhur yang diyakininya.
Sesungguhnya inti mantera adalah doa atau permohonan kepada yang dianggap
paling berkuasa. Dikalangan masyarakat Jawa yang memeluk agama Hindu ataupun
Budha mempunyai ritual untuk menghormati arwah nenek moyang dengan cara dan
sajian-sajian yang berbeda. Pemujaan arwah para leluhur itu sendiri tidak
merupakan agama bagi rakyat, tetapi merupakan bagian (unsur) penting dalam
ibadahnya. Pemujaan arwah para leluhur adalah sisa dari kehidupan keagamaan
pada zaman purba, yang masih bertahan dalam perjalanan sejarah hingga sekarang.[14]
Dalam agama Hindu menghormati nenek moyang dengan sajian yang berupa kue pada
hari-hari tertentu setelah pembakaran jenazah, dan ritual itu dilakukan sampai
turunan ke enam.selama ruh yang meninggal belum bersatu dengan nenek moyangnya
maka ia dipercayai masih berkeliaran dalam keadaan menderita. Ruh yang
berkeliaran dipercaya dapat mndatangkan bahaya atau gangguan bagi yang masih
hidup, sehingga perlu diberi saji-sajian agar ruh yang selamat dan terlepas
dari penderitaan, serta tidak mengganggu yang masih hidup[15]
Masyarakat jawa
sebelum masa islam, ketika akan melakukan hal yang dianggap sacral atau penting
bagi kehidupannya selalu mengawalinya dengan menyediakan sesaji. Hal itu
dimaksutkan sebagai media untuk mengajukan permohonan kepada yang punya
kekuatan luar biasa.
Suatu agama
jika datang di suatu daerah maka harus dengan cara yang baik agar diterima oleh
masyarakat setempat.Masa pengaruh Hindu-Budha bersifat terbuka untuk menerima agama
apapun dengan pemahaman bahwa semua agama itu baik. Di Jawa, Islam datang
dengan proses yang tidak mudah, Islam tersebar di Jawa dengan berbagai cara,
yaitu:
a.
Perdagangan
Jalur ini
melibatkan banyak pihak, mulai dari rakyat, bangsawan, raja, dan para pedagang.
Karena perdagangan merupakan jalur yang menguntungkan banyak pihak dan
islamisasi berjalan lancar dan damai.
b.
Perkawinan
Islamisasi
melalui perkawinan diperlancar dengan adanya pernikahan antara wanita muslimah
dengan bangsawan atau raja. Status sosial, ekonomi dan politik raja dan
bangsawan menguntungkan penyebaran islam, karena agama yang dipeluk raja atau
bangsawan akan diikuti pula oleh rakyat.[16]
c.
Tasawuf
Masyarakat jawa
punya kepercayaan yang sinkretis, sehingga para sufi menyampaikan ajaran telosofi
yang sinkretis. Para sufi juga menguasai metode tentang penyembuhan dengan
begitu penyampaian ajaran islam bisa lebih mudah diterima oleh masyarakat dan
mendorong mereka untuk masuk islam.
d.
Pendidikan
Pada masa
walisongo banyak didirikan pesantren yang multi fungsi menekankan pentingnya
peran pesantren dalam penyebaran ajaran agama islam maupun pembinaan mental
sepiritual masyarakat.
e.
Kesenian
Penyebaran
islam menggunakan media kesenian yang telah tumbuh di masyarakat sebelum islam.
Sebagian kesenian tersebut berasal dari masa hindu yang kemudian digunakan oleh
para walisongo untuk menyampaikan ajaran islam ketengah masyarakat. Seni
sebagai gejala yang mempunyai kaitan dengan sistem kepercayaan, dapat dilihat
dalam seni musik Jawa.[17]
f.
Politik
Adanya penguasa
daerah yang masuk islam, sangat membatu kelancaran islamisasi. Karena apabila
penguasa daerah sudah memeluk islam semua maka rakyatnya akan mengikutinya.[18]
Hubungan antara Islam dan budaya Jawa sangatlah lekat sehingga
tidak terpisahkan. Islam datang dan berkembang di Jawa dipengaruhi oleh kultur
dan budaya Jawa, begitu pula budaya Jawa makin diperkaya oleh khazanah Islam.
Dengan demikian, perpaduan antara keduanya melahirkan ciri khas sebagai budaya
yang singkretis yakni Islam Kejawen. Dengan begitu, terjadi simbiolosis
mutualisme antara Islam dan budaya Jawa. Keduanya dapat berkembang dan diterima
masyarakat Jawa tanpa menimbulkan friksi dan ketegangan.
Kejawen secara definitif diterima
sebagai seluk beluk pemikiran dalam tradisi jawa yang mengakar pada nilai-nilai
terutama diilhami oleh Hindu-Buddha dan pandangan animistik terhadap dunia.
Dalam sumber lain, Koentjaraningrat menyebut Kejawen sebagai Agama Jawi yaitu
suatu kompleks keyakinan dan konsep-konsep Hindu-Budha yang cenderung ke arah
mistik. Lebih jauh, Koentjaraningrat mengemukakan bahwa pandangan yang dianut
orang Jawa mengacu pada eskatologi yaitu keyakinan akan adanya dewa-dewa
tertentu yang menguasai bagian dari alam semesta dan terwujud dalam berbagai
konsep hidup serta kematian, roh penjelmaan orang yang sudah meninggal, benda
yang memiliki kekuatan gaib (keramat), dan segenap kekuatan alam semesta. Dalam
masyarakat Jawa, bentuk keyakinan ini kemudian diturunkan dari generasi ke
generasi secara lisan ataupun dalam bentuk kesusastraan. Istilah Kejawen
sendiri kerap disandingkan dengan penamaan lain, yaitu abangan. Abangan
memiliki arti harfiah merah dalam bahasa Jawa, lawan dari kelompok lain yaitu
putihan. Geerzt dalam Religion of Java menggunakan istilah abangan
untuk menggambarkan kelompok varian Islam yang cenderung mengikuti sistem
kepercayaan lokal, yaitu sinkretisme tradisi Hindu-Budha dan animisme
pra-islam.[19]
Menurut kajian sejarah, masuknya
Islam ke tanah Jawa telah mengalami “penyesuaian” terlebih dahulu. Islam yang
dibawa oleh pedagang Gujarat merupakan Islam yang telah lama hidup berdampingan
dengan masyarakat Hindu di India. Selain itu, masuknya Islam ke Gujarat
disebarkan oleh para sufi Persia, dua faktor yang menjadikan Islam mudah
diterima di pulau Jawa yang sebelumnya telah mendapat pengaruh Hindu dan Budha.
Dalam perjalanannya menuju tanah air, wajah Islam mengalami perubahan sesuai
konteks budaya India dan kembali mengalami perubahan ketika bersentuhan dengan
budaya Jawa. Sehingga menciptakan Islam kejawen yang bahkan sampai saat ini
masih banyak yang menggunakan kepercayaan tersebut.
D.
MASUKNYA
ISLAM DI JAWA
Sejak tahun 674
M. Di pantai barat sumatera sudah ada koloni-koloni saudagar yang berasal dari
negeri Arab. Pada abad ke-8 M. Di sepanjang pantai barat dan timur pulau sumatera
diduga sudah ada komunitas-komunitas Muslim. Hingga kini belum ada kesepakatan
di antara para ahli mengenai awal kedatangan Islam ke Jawa. Diantaranya
berkisar pada dua persoalan, yaitu: 1. Kapan masuknya Islam dan 2. Darimana
datangnya (jamil, 2000).[20]
1.
Islam
sudah masuk ke wilayah Jawa semenjak abad XI atas dasar inskripsi di Leran, Gresik.
Islam masuk melalui pesisir utara Pulau Jawa, dibuktikannya dengan ditemukannya
batu nisan kubur yang bernama Fatimah binti Maimun, yang wafat pada tahun 1082.
Dilihat dari namanya, diperkirakan Fatimah adalah keturunan Hibatullah, salah
satu dinasti di Persia. Pandangan ini mengundang keberatan berbagai kalangan
karena diduga batu nisan tersebut dibawa masuk ke Jawa sesudah tahun yang
tertera di dalamnya. Ricklefs lebih jauh menyatakan bahwa yang dikubur di situ
bukanlah orang jawa, tetapi kemungkinannya adalah orang luar yang kebetulan
melancong di Jawa dan meninggal di sana. Karena ketika orang Jawa yang
meninggal mereka akan menggunakan nisan yang berasal dari luar Jawa sehingga
kemungkinan batu nisan yang berada di Leran tersebut juga berasal dari luar
Jawa sesudah tahun yang tertera di dalam batu nisan tersebut.
2.
Islam
sudah berada di jawa semenjak abad XIV berdasarkan batu nisan yang terdapat di
Trowulan. Batu nisan tersebut menunjukkan tahun 1368 yang memberi indikasi
bahwa pada tahun itu orang Jawa dari kalangan keraton yang sudah memeluk Islam
atas perlindungan kalangan keraton. Kenyataan ini memberi petunjuk bahwa
kedatangan Islam pada tahun-tahun sebelum itu sudah barang tentu melalui
kawasan pesisir yang kemudian menuju ke wilayah pedalaman.
3.
Islam
sudah berada di Jawa pada abad XV berdasarkan batu nisan dari makam Maulana
Malik Ibrahim yang meninggal pada tahun 1419. Beberapa pandangan menyatakan
bahwa ia adalah seorang kaya berkebangsaan persia yang bergerak di bidang
perdagangan rempah-rempah. Pandangan lain menyatakan bahwa ia adalah salah
seorang di antara wali sembilan yang dianggap penyebar islam di Pulau Jawa.
Di antara ketiga pandangan tersebut, pandangan terakhirlah yang
menonjol di kalangan masyarakat luas hingga sekarang. Oleh karena itu makam
Maulana Malik Ibrahim selalu dikunjungi oleh masyarakat luas sebagai apresiasi
mereka terhadap kepelopornya sebagai penyebar islam serta keberadaannya sebagai
wali yang biasanya dianggap memiliki daya linuwih (jamil, 2000).
Dari segi pengislaman di Jawa, maka dapat diketahui bahwa, wilayah
Jawa Timur terlebih dahulu menerima Islam. wilayah itu antara lain Trowulan,
Gresik, Tuban Ampel, dan lingkungan istana Majapahit. Adapun wilayah Jawa
Tengah yang terlebih dulu menerima Islam adalah Jepara, Kudus, dan daerah alas
Roban Batang. Jepara dan Kudus mellui tokoh Raden Rahmat, sedangkan alas Roban
atau Batang melalui perjalanan Raden Patah.[21]
Asal usul dan rute kedatangan Islam ke jawa terdapat juga teori
yang berbeda satu sama lain, yaitu:
1.
Islam
masuk ke jawa berasal dari Arab secara langsung. Pendapat ini didasarkan bahwa
mayoritas penduduk indonesia berasal dari mazhab syafii, suatu mazhab yang pada
waktu itu sangat dominan di wilayah Semenanjung Arabia bagian selatan. Hal ini
dikuatkan dengan adanya anggapan bahwa pada waktu itu sudah ada rute pelayaran
melalui Persia dan India ke wilayah timur. Pandangan ini dikemukakan oleh
Neiman dan dikuatkan oleh Pijnaple. Di kalangan pengamat indonesia, maka Hamka
masuk dalam kategori yang menyatakan demikian ini.
2.
Islam
masuk ke wilayah jawa melalui jalur India. Pandangan ini diantara lain
dikemukakan oleh Snouck Hurgronje ketika memberika kuliah perpisahan di
Universitas Leiden. Ia mengatakan bahwa, Sumatra dan Jawa mengenal Islam lewat
kontak yang terjadi dengan pedagang-pedagang dari India. Pandangan ini paling
tidak didukung oleh tiga hal,yaitu: 1. Adanya orang Islam di wilayah India
Selatan. 2. Adanya jalur perdagangan antara India Selatan dengan kepulauan
Nusantara. 3. Dan adanya elemen Islam yang amat menonjol dalam kegiatan
perdagangan. Pandangan ini didukung dengan adanya batu nisan Malik Ibrahim
berasal dari Gujarat. Jhon F. Cady dalam bukunya South East Asia, Its
Historical Background mendukung pandangan ini atas dasar adanya orang
Gujarat yang banyak mendiami kawasan kota pelabuhan di Pantai Utara Jawa. Dari
Gujarat inilah akhirnya Islam menyebar ke Asia Tenggara.
3.
Masuknya
Islam ke Jawa melalui Kamboja. Pendapat ini didasarkan pada adanya hubungan
antara Kepulauan Nusantara dengan Keraton Campa. Pada tahun 1471 keraton
tersebut mengalami kekalahan dari orang Vietnam Utara sehingga keluarga keraton
mengungsi wilayah malaka. Dari sini mereka kemudian menlanjutkan perjalanan ke
wilayah-wilayah kota pelabuhan di pantai Utara Jawa. Melalui jalur pantai utara
lambat laun agama Islam berkembang ke arah selatan.
4.
Islam
masuk ke wilayah jawa berasal dari Cina. Pandangan ini didasarkan dari cerita
dari Jawa Timur yang berasal dari Serat Kanda yang menyatakan bahwa
Raden Patah adalah anak seorang perempuan Cina. Anggapan ini dikuatkan oleh
cerita yang beredar di Jawa Barat atau Sejarah Banten yanng menyebutkan Raja
Demak sebagai Pati Raja Cina, Hikayat Hasanudin disebutkan dengan nama Cek Ko
Po yang berasal dari Mongolia. Dalam Naskah Melayu yang diterbitkan
Parlindungan dijelaskan secara terperinci tentang elemen-elemen Cina yang agak
menonjol seperti bangunan klenteng-klenteng besar yang konon semula adalah
masjid yang dibangun oleh Muslim Cina yang masuk wilayah Indonesiapada masa
kerajaan Maritim. Naskah tersebut juga menjelaskan mengenai penyair agama Islam
yang ternyata adalah orang Cina. Memang sudah lama terjadi hubungan histori
antara kerajaan-kerajaan di jawa dengan kekaisaran Cina.
5.
Islam
disebarkan melalui bermacam-macam jalur. Pandangan lain yang lebih bersifat
merangkum teori-teori di atas menyatakan bahwa asal usul islam adalah dari para
guru sufi yang dalam perjalanan mereka ke wilayah Nusantara dapat melalui
lautan Hindia atau melalui jalur perdagangan sutra. Di kawasan Timur Tengah
mereka menempuh perjalanan sungai ke kanton, dan dari sinilah mereka menempuh
perjalanan seterusnya ke wilayah Campa, Malysia, dan Sumatra. Para guru sufi
tersebut berasal dari kebangsaan yang bermacam-macam.
Pemukiman Arab Muslim di China dan Campa telah tumbuh sejak abad
8-9. Jadi, tidaklah mustahil jika pada abad XI telah terdapat komunitas Muslim,
seperti dibuktikan adanya makam Islam dan keramik Cina disitus Leran. Temuan
tersebut dapat menunjukan bahwa sejak abad XI daerah Leran dan sekitarnya
merupakan pusat perdagangan penting di Jawa Timur (Mustopa, 2001).
E.
WALISONGO
Menurut
penelitian dari para sejarawan, bahwa keanggotaan dari Dewan Walisanga yang
berperan besar di dalam penyebaran ajaran agama Islam di tanah Jawa terdiri
dari Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim/Syekh Magribi), Sunan Ampel (Raden
Rahmat), Sunan Giri (Raden Paku), Sunan Gunung Jati (Sayid Zen atau Raden Abdul
Qadir), Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim), Sunan Drajat (Maseih Munat atau
Raden Qasim), Sunan Kudus (Raden Undung Ja’far Shadiq), Sunan Kalijaga (Raden
Syahid), dan Sunan Muria (Raden Umar Syaid).[22]
Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak
Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang
berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak
Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang.
Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung
Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih
dahulu meninggal.
Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad
15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni
Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta
Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu
masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru:
mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian,
kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi
pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke
seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya
ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan
Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang.
Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi
Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam.
Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu
banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar
dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan
masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali”
ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang
unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan
diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut
para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta
karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa
-yakni nuansa Hindu dan Budha.
1. Maulana Malik
Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim
As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal
abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti
pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi.
Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai
Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara
dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari
Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama
Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana
Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi
Muhammad saw.
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa,
sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi
putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal
dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup
menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim
hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya
disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo,
daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo
sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu
adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan
pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga
menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib,
kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari
Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru
bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam
Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati
masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang
saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran,
tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura,
Gresik, Jawa Timur.
2. Sunan Ampel
Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut
Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan
nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri,
diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau
Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo
sekarang).
Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk
ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun
1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di
Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit
menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting
salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di
Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri.
Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat.
Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak
didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa
itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V
raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang
dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren.
Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15,
pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah
Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan
Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke
berbagai pelosok Jawa dan Madura.
Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun,
pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan
pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo”
(moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk
“tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan
narkotik, dan tidak berzina.”
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di
Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
3. Sunan Giri
Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad
Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada
juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa
kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan
bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai
Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).
Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung
Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi
gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga
isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.
Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren
misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat
berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren
di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit
adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat
pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat.
Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan-
memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun
berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton.
Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.
Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang
penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit,
Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan
Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas
dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi
keagamaan, se-Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah
seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih
menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.
Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai
penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura,
Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan,
Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari
Minangkabau.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya
yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul
Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti
Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan
Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun
syarat dengan ajaran Islam.
4. Sunan Bonang
Ia anak Sunan Ampel,
yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum
Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila,
puteri seorang adipati di Tuban.
Sunan Kudus banyak
berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di
Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun
meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara
penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan
mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk
teguh-menunjuknya.
Cara Sunan Kudus
mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan
Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang
dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud
kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Suatu waktu, ia
memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu,
ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman
masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi
setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarahyang
berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus,
masih menolak untuk menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga
menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri,
sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan
yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah.
Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya
berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga
pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak,
di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya
Penangsang.
5. Sunan Kalijaga
Dialah “wali” yang
namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450
Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh
pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah
menganut Islam
Nama kecil Sunan
Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti
Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam
versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.
Masyarakat Cirebon
berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan
Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan
Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk
berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut
istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya
sebagai “penghulu suci” kesultanan.
Masa hidup Sunan
Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia
mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak,
Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546
serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia
ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak.
Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid
adalah kreasi Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, ia
punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang.
Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik
(pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk
berdakwah.
Ia sangat toleran
pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang
pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil
mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan
sendirinya kebiasaan lama hilang.
Maka ajaran Sunan
Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir,
wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta
Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang
Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua
beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah
tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui
Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen,
Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan
di Kadilangu -selatan Demak.
6. Sunan Gunung Jati
Banyak kisah tak
masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia
pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu
Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman.
Semua itu hanya
mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan
Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M.
Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa.
Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir
keturunan Bani Hasyim dari Palestina.
Syarif Hidayatullah
mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat
berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan
atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga
dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian,
Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan.
Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk
menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.
Dalam berdakwah, ia
menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat
dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar
wilayah.
Bersama putranya,
Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten.
Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten
tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.
Pada usia 89 tahun,
Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan
itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung
Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di
daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon
dari arah barat.
7. Sunan Drajat
Nama kecilnya Raden
Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang.
Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun
1470 M. Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah
ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog –pesisir
Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat
berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur,
yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.
Dalam pengajaran
tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak
banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya
mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk.
Maka iamenggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah
tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang
telanjang.
Sunan Drajat juga
dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya,
ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.
8. Sunan Kudus
Nama kecilnya Jaffar
Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak
Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra
Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun
diangkat menjadi Panglima Perang.
Sunan Kudus banyak
berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di
Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun
meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara
penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan
mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk
teguh-menunjuknya.
Cara Sunan Kudus
mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan
Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang
dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud
kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Suatu waktu, ia
memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu,
ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman
masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi
setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang
berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus,
masih menolak untuk menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga
menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri,
sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan
yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah.
Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya
berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga
pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak,
di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya
Penangsang.
9. Sunan Muria
Ia putra Dewi Saroh
–adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan
Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat
tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus
Gaya berdakwahnya
banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah,
Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat
kota untuk menyebarkan agama Islam.
Bergaul dengan
rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam,
berdagang dan melaut adalah kesukaannya.
Sunan Muria
seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan
Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai
masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat
diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara,
Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat
seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sebelum Islam masuk ke tanah Jawa,
mayoritas masyarakat Jawa menganut kepercayaan Animisme, Dinamisme, Hindu, dan
Budha.Penganut Animisme dan Dinamisme melakukan ritual menggunakan sesaji dan
mantra. Sesaji dipersembahkan kepada roh yang dituju, sehingga aneka sesaji
yang dipilih juga mencerminkan kesenangan roh.
Islam datang dengan proses yang
tidak mudah, Islam tersebar di Jawa dengan berbagai cara, yaitu: Perdagangan,
Perkawinan, Tasawuf, Pendidikan, Kesenian, Politik. Tokoh-tokoh yang sangat
berperan menyebarkan Islam di Jawa yaitu Walisongo.
Kepercayaan masyarakat Jawa setelah
peralihan agama tersebut yaitu menjadi kepercayaan Islam Kejawen. Dimana
masyarakat menjunjung tinggi agama Islam tanpa menghilangkan budaya Jawa yang
sudah ada sejak zaman nenek moyang.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdurrohman. Agama-Agama Di Dunia. Yogyakarta. Hanimdita Offest.
Addien. 2009. Perkembangan
Masyarakat Indonesia Berbagai Zaman. Bandung. PT. Puri Delco.
Amin, Darori. 2000.Islam dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta. Gama Media.
Anasom, dkk. 2004.Membangun Negara Bermoral: Etika Bernegara
dalam Naskah Klasik Jawa-Islam. Semarang Pustaka Rizki Putra.
Ernawati, Rus. 2003. Sejarah untuk Kelas 1 SMU. Solo. Penerbit Cempaka Putih.
Irwan, Abdullah. Konstruksi
Dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Khalil,Ahmad.2008.islam Jawa, Sufisme dalam Etika dan Tradisi
Jawa. Malang. UIN Malang
Press.
Koentjaraningrat.
Kebudayaan Jawa. Jakarta. Balai Pustaka.
Kuntowijoyo. 2006. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta. Tiara
Wacana Yogya.
Muljana,
Slamet. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara
Islam di Nusantara. Yogyakarta. LKiS Pelangi Aksara.
Purwadi. 2005. Dakwah Sunan Kalijaga. Yogyakarta. Pustaka
Pelajar.
Respati, Djenar. 2014. Sejarah
Agama-Agama di Indonesia. Yogyakarta. Araska.
Suhandjati,Sri.
2015.Islam dan Kebudayaan Jawa Revitalisasi Kearifan Lokal. Semarang.
CV.Karya Abadi Jaya.
[4]Anasom, dkk, Membangun
Negara Bermoral: Etika Bernegara dalam Naskah Klasik Jawa-Islam, (Semarang: Pustaka Rizki Putra,2004), hlm 17.
[6]Ahmad Khalil, islam Jawa, Sufisme dalam Etika dan
Tradisi Jawa,(Malang: UIN Malang
Press,2008), hlm135.
[7]https://www.google.com/search?q=kumpulan+peninggalan-peninggalan+hindu+di+jawa&ie=utf-8&oe=utf-8
[12]
Addien A, Perkembangan Masyarakat Indonesia Berbagai Zaman, Bandung: PT.
Puri Delco, 2009, hlm 14.
[13] Sri
Suhandjati, Islam dan Kebudayaan Jawa Revitalisasi Kearifan Lokal,(Semarang:
CV.Karya Abadi Jaya, 2015), hlm 37.
[14]
Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara
Islam di Nusantara, (Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara, 2005), hlm 251.
[15]
Ibid, hlm. 41.
[16]Slamet
Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di
Nusantara, (Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara, 2005), hlm 251.
[17]Kuntowijoyo,
Budaya dan Masyarakat, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2006), hlm 77.
[18]Ibid,
hlm. 65.
[19]http://antimateri.com/islam-kejawen-dan-relativisme/
[20]Purwadi,
Dakwah Sunan Kalijaga,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hal 5.
[21]http://tarrymunawiru.blogspot.co.id/2015/01/masuknya-islam-di-jawa-dan-pengaruhnya.html
[22]Djenar
Respati, Sejarah Agama-Agama di Indonesia, (Yogyakarta: Araska, 2014),
hlm 119.
Komentar
Posting Komentar