ISLAM DAN BUDAYA JAWA “Orang Jawa dan Budayanya”
Disusun
oleh :
Agus
Zaenul Mutaqin
Dedeh
Kurniasih
Reza
Maulana
Muhammad
Izzan F.
Beni
Irawan
A. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan sebuah negara yang
terdiri dari berbagai pulau yang terdiri dari banyak pulau baik yang besar
maupun pulau – pulau yang kecil ,baik yang berpenghuni maupun yang tak
berpenghuni. Selain terdapat banyak pulau yang tersebar di nusantara ,
Indonesia juga mememiliki banyak suku ,salah satu nya yaitu suku Jawa.
Orang-orang Jawa memiliki berbagai macam
kultur yang sangat beragam dan merupakan suatu kesatuan masyarakat yang diikat oleh norma-norma hidup secara
histori, tradisi, maupun agama. Di dalam pergaulan hidup maupun hubungan sosial
sehari-hari mereka berbahasa Jawa. Pada waktu mengucapkan bahasa daerah ini pun
mereka harus memperhatiksn siapa lawan bicaranya, dan harus menyesuaikan
kriteria bahasa yang harus digunakan. Kepribadian masyarakat Jawa yang lembut
dan penuh dengan toleransi merupakan hal sederhana yang biasa mereka lakukan.
Namun akan menjadi pokok terpenting pada karakteristik masyarakat Jawa dalam
bersosialisasi di lingkungan hidupnya.
B. DEFINISI
DAN CIRI-CIRI ORANG JAWA
Jawa adalah orang yang menggunakan bahasa
harian nya ,atau bahasa keseharian nya yang digunakan adalah bahasa jawa.
Bahasa Jawa yang digunakan orang jawa pun memiliki logat (gaya bahasa) sendiri,
seperti bahasa jawa logat Ngapak yang sering digunakan untuk daerah Tegal dan
sekitar nya..[1]
Orang jawa secara umum memiliki tempat
tinggal di pulau Jawa dan merupakan penduduk asli pulau Jawa bagian tengah dan
timur. Namun seiring dengan program pemerintah yaitu Transmigrasi orang-orang
jawa tidak hanya tinggal di pulau Jawa namun juga tinggal di banyak pulau
seperti pulau Sumatera, pulau Kalimantan, dan mereka mulai menetap di sana dan
memiliki keturunan disana.
Orang Jawa secara umum memiliki
ciri-ciri dari berbagai segi seperti hal nya dari nama memiliki ciri yang khas
yang tersendiri. Ciri dari orang jawa seperti berikut :
1.
Nama
Orang Jawa memiliki
ciri khas tersendiri dari segi pemberian nama. Anak-anak meraka.[2]Orang
Jawa sering kali memberi nama berdasarkan jenis kelamin mereka. Untuk anak
laki-laki seperti Nanang, Joko, Ibnu, dan masih banyak lagi. Dan untuk anak
perempuan mereka seperti Putri, Siti, Ayu, Ajeng, dan masih banyak lagi.
2.
Kegiatan
Sehari-hari
Orang Jawa memiliki
budaya sosialisme keseharian dalam keseharian nyaYaitu Gotong Royong. Gotong
Royong merupakan sikap sosialisme yang sangat menonjol pada masyaakat Jawa,
yaitu kerja sama, bahu-membahu dan saling membantu sesama pada segala bentuk
kegiatan kemasyarakatan.
3.
Landasan
Kepemimpinan
Orang Jawa memeliki
landasan kepemimpinan dalam kehidupan Sehari-hari nya yaitu Asah,Asih,Asuh. Merupakan landasan
kepemimpinan yang sesuai dengan nilai-nilai kejawaan.[3]
Kata asih berkaitan dengan pelayanan kasih, saling memberi dan menerima,
perhatian, persahabatan dan hubungan baik dengan sesama. Kata asah,
berarti menggosok agar tajam, termasuk pikiran. Hal ini berhubungan dengan
pengembangan pribadi, bimbingan, pendidikan, dan bantuan lain untuk eksistensi
karir dan kontribusi social. Sedangkan asuh, atau kata lainnya adalah
ngemong, berkaitan dengan pemeliharaan, perawatan, dan dukungan sehingga orang
lain tetap tegak berdiri serta menjalani hidupnya secara sehat
4.
Budaya
Dari sudut pandang
budaya orang jawa memiliki ciri khas. Tersendiri dari tiap-tiap wilayah nya,
namun demikian tak sedikit pula bentuk kebudayaan nya. Contoh bentuk kebudayaan
yang hampir mirip satu daerah dengan daerah lain yaitu budaya Barong. Di Blora
memiliki budaya Barongan sama seperti hal nya dengan Kendal , namun dari segi
permainan dan segi bentuk dari dua budaya ini berbeda namun budaya ini memiliki
cerita yang sama yaitu cerita Panji Asmoro Bangun.
C.
KARAKTERISTIK
ORANG JAWA
1. Bahasa
Dalam
falsafah Jawa, jining diri soko lathi,
berarti harga diri seseorang diantaranya tergantung pada mulut,dan bahasanya.
Kata-kata yang fasih, manis, dan empan papan (tahu kondisi dan kondisi) akan
menyenangkan hati. Sedangkan perkataan yang kotor akan menyakiti hati orang
lain Sumber malapetaka seseorang
kebanyakan dari lidah yang tidak terkendali.[4]
Untuk itu , dalam bahasa jawa dikenal unggah-ungguh, sopan santu dalam
berbahasa. Kalau dengan orang lebih tua maka menggunakan kromo inggil, yang
biasa digunakan dilingkungan Kraton Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta.
Sementara bahasa dengan sesama menggunakan ngoko. Orang Jawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada di
masyarakat, karena nilai-nilai itu merupakan bagian dari wujud abstraksi kebudayaan Jawa yang menjadi
pedoman perilaku manusia.
Dalam
penggunaan bahasa Jawa, orang Jawa dalam membedakan nama biasanya memberikan
akhiran o, a, man,no, dan wan untuk laki-laki, dan I wati, ni, ah, yem, nah,
atau sih untuk perempuan.[5]
2. Spiritual
Atau Kepercayaan
Simbol
budaya berikutnya tercermin dalam ritus orang keramat, roh dan selametan
sehingga sering diidentikkan dengan budaya magis atau mistik. Mistik Jawa lebih
dikenal dengan istilah kebatinan. Dalam KBBI, memiliki kata dasar batin (arab)
yang berarti didalam, mendapat imbuhan ke-an menjadi kebatinan yang berarti
bagian tertutup di dalam. Secara harfiah, kebatinan adalah suatu yang
tersembunyi, kebenaran dibalik kebenaran atau kebenaran yang terdalam.
Budaya
Jawa sudah ada sejak zaman prasejarah, dengan bertumpu pada dasar pemikiran
animism-dinamisme. Yaitu adanya kepercayaan tentang kekuatan atau energy yang
mendiami benda-benda (keramat) dan adanya roh-roh halus (termasuk arwah
leluhur) yang menempati alam sekeliling.
Dalam
religi Jawa ini juga terdapat adanya kepercayaan bahwa bagi sebagian manusia
mampu mengadakan kontak langsung dengan alam arwah tau dunia ghaib. Bahkan
manusia dapat mengendalikan alam arwh tersebut dengan kekuatan gaib untuk
keperlun mereka dan spiritual mereka. Bentuk kontak dengan alam gaib bagi
masyarakat Jawa ini diekspresikan dengan upacara-upacara ritual pemujaan terhadap
sesuatu yang dianggap sacral (kramat) dengan aksesoris berupa sesaji, pembacaan
mantra-mantra, dan menggunakan mediator yang memiliki kemampuan spiritual
tertentu.
Ritus-ritus
ini adalah warisan dasar budaya Jawa yang terus mengakar, walaupun sekarang
ritus ini telah diisi dengan dimensi keagamaan yang sangat kental. Walau
demikian , ritus-ritus keramat tetap menjadi “agama jawa” yang mampu
mengakomodasi spirit Hindu India dengan spirit Islam yang diakulturasikan
dengan budaya Jawa. Kepercayaan mistik orang jawa banyak dijumpai di lingkungan
istana (kerajaan) yang bersendikan nilai-nilai agama. Sehingga, secara historis
mistik jawa yana(kebatinan) diartikan sebagai kebudayaan spiritual dari Kraton
Jawa, yang sering dikenal dengan istilah Agama ageing Aji, Kawruh kawruhing
Ratu (Warsito,1973:19).[6]
Para penganut mistik dituntut untuk menjadi manusia yang Sepi ing Pamrih, rame
ing gawe dan ikut memayu hayuning bawana (banyak bekerja bakti dengan tanpa
mementingkan keuntungan pribadi dan ikut membentuk dunia yang indah dan
makmur), inilah yang menjadi pedoman dan falsafah aliran-aliran kebatinan (HM.
Rasjidi1992: 65).[7]
Harmoni
social bukan sekedar tercipta dengan ruang gerak fisikal, tetapi juga melalui
jalan metafisik-spiritual yang menggelora nurani dalam kesatuan tunggal. Dalam
istilah jawanya yaitu “Manunggaling kawula-Gusti” sebagai tujuan tertinggi
untuk mencapai kesatuan dengan realitas tertinggi (Tuhan). Jalan mencapai
penghayatan melalui manekun amuntu Samadhi, yaitu membaca rumusan kata-kata
yang dianggap memiliki daya magis, yang mampu menyatukan jiwa manusia dengan
dzat Tuhan. Orang yang ingin memproleh penghayatan ini yaitu mereka yang
mengetahui hakikat manusia itu sendiri, kemana setelah manusia hidup di dunia
ini (sangkan paraning dumadi).
Seiring
berjalannya waktu, pengaruh Islam sangat besar terhadap perkembangan tradisi
Jawa yang tercermin dengan munculnya aliran-aliran kebatinan, terilihat dengan
partisipasinya dalam hidup jawa. Dalam hal-hal duniawi sikap hidupnya senada
dengan ajaran tasawuf, seperti: sikap rila, narima, waspada, eling, sabar, dll.
Pandangan hidup masyarakat Jawa sebelumnya bersifat mistik dapat sejalan, untuk
kemudian mengakui Islam-tasawuf sebagai keyakinan mereka. Ciri pelaksanaan
tasawuf yan menekankan pada berbagai latihan spiritual, seperti dzikir dan
puasa, berulang kali disampaikan dalam karya-karya sastra.
Ngelmu iku kalakone
kanthi laku. Lekase lwn kas, tegese kas nyamkosani. Setya budya pangekese dur
angkara.
Artinya:
Ngelmu (ilmu) itu hanya dapat dicapai dengan laku (mujahadah), dimulai dengan
niat yang teguh, arti kas menjadi sentosa. Iman yang teguh untuk mengatasi
segala godaan rintangan dan kejahatan.
3. Adat
Istiadat Atau Tradisi
Social
dalam budaya Jawa harus ditegakkan untuk menyangga struktur tubuh Nusantara
yang sedang dibalut berbagai penyakit social yang berkecamuk. Dalam mengikat
kebersamaan simpul budaya Jawa tersimpul dalam tradisi nyadran. Yang termaktub
dalam falsafah “mangan ra mangan kumpu”l.
Karena semakin kuat kebersamaannya, maka “wonten
sekedek dipundum sekedek, wonten katah inggih dipundum katah”. Serta dalam
penciptaan social yang utuh, dalam simpul falsafah jawa dalam gotong royong
mengedepankan sifat “sepo ing pamrih,
rame ing gawe”. Yaitu semangat bekerja dan aktivitas tanpa ingin dipuji atau
dibangga-banggakan.
Tradisi
Nyadran ini merupakan salah satu bentuk
upacara mengagungkan arwah leluhur. Upacara ini melakukan berbagai macam sesaji
di rumah-rumah. Adat ini dilakukan pada bulan ruwah (jawa) atau syaban (Islam)
dengan berziarah kubur dengan membersihkan makam leluhur , memanjatkan doa
kepada sang Kholik agar dosa-dosa leluhur diampuni, dan tabor bunga yang
semuanya ini sebagai darma bakhti serta mandi suci untuk menyambut bulan
Ramadhan.
Sejak
awal, budaya jawa yang dihasilkan pada masa Hindu-Budha bersifat terbuka untuk
menerima agama apapun dengan anggapan semua agama itu baik, sehingga disebutlah
bahwa kebudayaan jawa ini bersifat sinkretis (bersifat momot atau memuat) guna
memperkaya pandangan untuk menghadapi tantangan zaman.
Karakteristik
dari budaya jawa lainnya, yaitu sangat bersifat teokratis. Yaitu masyarakat
harus tunduk patuh terhadap raja-raja atau pemimpin dinasti yang diyakini
sebagai titisan dewa atau Tuhan agar
mendapatkan keselamatan dunia akhirat, sedangkan kraton sebagai pusat simbolok
dan fisik alam semesta. Kehidupan setiap orang jawa, dari kalangan petani
sampai kalangan bangsawan aristocrat, diatur oleh hak istimewa raja.
Adapula
tradisi slametan yang menjadi ritus mistik orang jawa, dilakukan sejak
menyambut klahiran seorang bayi, khitanan, pernikahan, sampai orang meninggal.
Slametan pada masa pra-Islam banyak menggnkan tradisi mistis mitodologis
Hindu-Budha dengan berbagai macam sesaji, setelah Islam datang cukup dengan
doa-doa yang dipanjatkan oleh seorang rais dan bacaan-bacaan ayat al-Quran
dianggap telah sah.
Serta
beberapa adat kejawen lainnya seperti meditasi atau semedi, melakukan tirakat,
tapabrata, dan berbagai puasa kejawen. Dalam sejarah manapun tidak ada agama
yang lahir diruang “hampa budaya” yang
“ujug-ujug” tanpa ada latar belakangnya. Puasa bagi orang jawa sudah menjadi
sebuah bagian kehidupan manusia, bahkan sebelum datannya Islam ketanah Jawa.
Tradisi puasa sudah dengan berbagai tujuan , seperti halnya “puasa mutih”
(hanya makan nasi dan air putih yang
hambar tak berasa), puasa ngrowot (hanya makn umbi-umbian), puasa “ngebleng”
(puasa tidak makan-tidak minum dan tidak keluar kamar), atau puasa lainnya yang
bertujuan agar anak-anak dan keluarganya hidup tentram lahir batin dalam bahasa
jawa nya “urip mulyo”, tidak kekurangan sandang dan pangan, dapat jodoh yang
baik dan harapan-harapan lain yang luas.
4. Seni
Para
tokoh masyarakat, memasukkan ajaran-ajaran agama serta nilai-nilai yang
dianggap baik dalam dunia kesenian. Karena mengingat masyarakat jawa yang
berkarakteristik menyukai kesenian, maka para tokoh masyarakat, ulama, pendeta,
dan lainnya ikut berandil di kesenian. Seperti, adanya suluk wahdat wakidiyat
karya Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana III, berbentuk tembang
asmarandana terdiri dari 14 bait. Suluk ini mencerminkan Jawanisasi tasawuf
(mistik Islam). Ada juga lewat pewayangan dengan mengajarkan nilai-nilai
tauladan melalui peran tokoh-tokohnya. Dan dalam tradisi jawa juga terkenal
dengan adanya symbol-simbol “laku” yang melibatkan benda-benda yang dianggap
asli jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantra, penggunaan bunga-bunga
tertentu,dsb.
Dalam
teokratisnya budaya jawa, kraton merupakan simbolik dan fisik alam semesta.
Gaya arsitektur dan tata letak keempat kraton didasari oleh prinsip yang
berakar pada kosmologi Hindu-Jawa. Yang memiliki nilai simbolik yang penuh
dengan kekuatan mistik fisik dan batin. Yang dimna dua istana Yogyakarta dan
Surakarta itu menghadap ke gunung tempat para
dewa, sedangkan gerbang selatan menghadap kelaut, kediaman mistik nenek
moyang.
D. BUDAYA
JAWA
Kebudayaan jawa adalah kebudayaan
msyarakat asli jawa yang telah berkembang semenjak masa prasejarah sebagai
halnya suku-suku sederhana lainya,budaya jawa ini bertumpu dari religi animisme
dan dinamisme. Kebudayaan jawa sebuah sistem yang mencakup bahasa,sistem
teknologi, mata pencaharian, organisasi sosial, corak berpikir,sistem keagamaan
dan kesenian yang dianut dan di lestarikan secara turun temurun oleh masyarakat
setempat.
Masyarakat jawa adalah orang-orang yang
dalam hidup keseharianya menggunakan bahasa jawa dengan ragam yang dialeknya
secara turun temurun. Suku bangsa jawa
adalah mereka yang bertempat tinggal di daerah jawa tengah,jawa timur,serta mereka yang berasal dari kedua daerah tersebut.
Secara geografis suku bangsa jawa mendiami tanah jawa yang meliputi: banyumas,
kedu, yogyakarta, surakarta, madiun, malang, dan kediri. Sedangkan di luar itu
dinamakan pesisir dan ujung timur.
Kebudayaan jawa dalam perwujudanya
beraneka warna,seperti dalam bahasa terdapat banyak logatnya,demikian pula
dalam kesenian,makanan maupun bidang
lainya.budaya jawa yang berkembang di daerah yogya dan solo mempunyai corak
khusus yang bersumber dari budaya kraton. Selain di bidang seni dan
sastranya,juga memiliki kecenderungan pada sinkretisme dalam kehidupan
keagamaanya.sedangkan budaya jawa pesisiran lebih di warnai oleh ajaran islam
seperti dalam kesususastraan maupun dalam pemahaman agamanya yang cenderung
pada islam yang puritan.[8]
Fase fase perkembangan budaya jawa
untuk melihat sejauh mana pergumulan
budaya jawa sebelum dan sesudah islam datang.hal ini penting di kaji untuk
menguak sistem nilai dan karakteristik budaya jawa. [9]di
dalam pergaulan-pergaulan hidup maupun perhubungan perhubungan sosial sehari
hari mereka berbahasa jawa,ada dua macam bahasa jawa yaitu bahasa jawa ngoko
dan krama. Bahasa jawa ngoko di pakai oleh orang yang sudah di kenal akrab, dan
terhadap orang yang lebih muda usianya serta lebih rendah status sosialnya.
Sebaliknya bahasa jawa krama di gunakan untuk berbicara kepada orang yang belum
akrab,tetapi sebaya atau seumur sederajat,serta kepada orang yang lebih tua
dari kita atau lebih tinggi status sosialnya.
Secara kodrati budaya jawa seperti
halnya budaya lainya akan selalu mengalami proses perubahan atau perkebangan
dalam arti yang luas. Pengembangan nilai budaya jawa merupakan upaya secara
sadar untuk secara terus menerus meningkatkan kualitasnya. Bahasa jawa
misalnya, perkembanganya sangat jauh sehingga menjadi bahasa yang tak tertandingi oleh bahasa manapun,terutama mengenai
kekayaan kosakatanya.
E. WILAYAH
DAN CIRI-CIRI BUDAYA JAWA
Franz Magnis Suseno mengemukakan
bahwa kebudayaan jawa adalah hasil ciptaan orang jawa. Sedangkan yang disebut
orang jawa adalah penduduk asli yang tinggal di jawa tengah dan jawa timur dan
menggunakan bahasa jawa. Diantara mereka atau keturunannya ada yang kemudian
pindah ke tempat lain, dan tetap menjaga adat istiadat jawa dimana pun mereka
berada.
Dengan demikian, unsur budaya yang
mempunyai ciri kebudayaan jawa, tetap disebut sebagai budaya jawa meskipun
tempat berkembangnya di luar jawa atau diluar negeri.
Wilayah dan ciri budaya jawa di
indonesia :
1. Solo
dan yogyakarta
Budaya
jawa yang berkembang di daerah solo dan yogya mempunyai corak khususnya yang bersumber
dari budaya kraton. Budaya jawa yang berkembang di kraton juga dikenal lebih
halus karena terikat dengan unggah-unggah atau tatakrama yang dibuat oleh raja
atau pujangga kraton.[10]
2. Ponorogo
Didaerah
ponorogo ini terdapat budaya yang sangat khas yaitu reog. Reog yang sempat
diklaim sebagai tarian dari malaysia merupakan kesenian khas daerah ponorogo
yang telah dipatenkan sejak tahun 2001, reog kini juga menjadi ikon kesenian
jawa timur. Reog adalah salah satu budaya kesenian daerah yang masih sangat kental
dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu
kebatinan. Ciri khas daerah ponorogo ini adalah tarian reog.[11]
3. Brebes
Daerah
brebes ini juga mempunyai beberapa budaya yang sampai sekarang masih
dilestarikan, salah satu kebudayaan tersebut adalah tari topeng brebes. Tari
topeng brebes ini merupakan jenis yang berkembang di wilayah kabupaten brebes
khusunya berkembang di kecamatan losari. Dan ciri khas daerah brebes ini yang
paling terkenal adalah bawang merah dan telor asin.[12]
4. Semarang
Adat
istiadat semarang sangatlah kental. Salah satunya tradisi adat dari semarang
adalah perayaan tradisi dugderan. Dari kebudayaan tersebut dapat melihat
percampuran seluruh budaya yang ada di kota semarang. Perpaduan budaya tersebut
dapat kita lihat pada warak endog, warak endog adalah boneka binatang raksasa
yang merupakan mitodologis yang digambarkan sebagai sismbol akulturasi
kebudayaan di kota semarang.
5. Pekalongan
Pekalongan
disebut juga dengan kota batik, kota batik tersebut menjadi ciri khas bagi kota
pekalongan. Selain ciri khas tersebut, pekalongan juga mempunyai tradisi budaya
yang sampai saat ini masih di selenggarakan. Tradisi kebudayaan tersebut adalah
lopisan. Lopisan adalah upacara adat bagi umat islam yang berada di pekalongan
dan sekitarnya, untuk menyaksikan lopis raksasa yang mempunyai ukuran diameter
150cm, berat 185 kg dan tinggi 110cm. Tradisi kebudayaan ini dilaksanakan satu
minggu setelah hari raya idul fitri. Tradisi kebudayaan lopisan ini sudah
dimulai sejak 130 an tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1855 M.[13]
F. UNSUR
BUDAYA JAWA
1. Mata
Pencaharian
Selain
pekerjaan-pekerjaan kepegawaian, pertukangan, dan perdagangan sebagai sumber
penghidupan bagi masayarkat Jawa, sebagian besar masyarakat Jawa di pedesaan
menjadi petani. Untuk masyarkat yang di daerah pegunungan, mereka menggarap
lahan pertaniannya untuk dijadikan kebun kering (tegalan), sedangkan untuk
masyarakat yang berada di daerah yang lebih rendah, mengolah tanah-tanah
pertanian mereka untuk dijadikan sawah[14].
Pada umumnya, jenis-jenis tanaman yang ditanam di persawahan berupa padi
kemudian diselingi dengan tanaman palawija.
Smentara
untuk masyarakat di daerah pesisir Jawa, sebagian besar menjadi nelayan untuk
memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selain itu, wilayah pesisir ini memegang peran
penting dalam membangun kontak dengan dunia luar seperti Hindu, Islam, kongsi
dagang Eropa, dan kolonialisme[15].
Hal ini dikarenakan daerah pesisir Jawa merupakan jalur perdagangan dan tempat
persinggahan bagi pedagang-pedagang dari luar Jawa.
2. Bentuk
Rumah
Pada zaman sekarang ini, sudah
sangat jarang sekali ditemukan rumah-rumah khas Jawa. Hal ini selain
dikarenakan tingginya biaya yang diperlukan untuk membangun rumah khas Jawa
karena membutuhkan kayu yang lebih banyak dan juga disebabkan sulitnya menemukan
bahan bangunan untuk mendirikan rumah khas Jawa..
Dipandang dari bahan dan bentuknya,
maka ada beberapa macam rumah. Ada rumah yang yang dibangun memakai kerangka
dari bambu, glugu (batang pohon nyiur) atau kayu jati; kemudian dindingnya
dibuat dari gedek (anyaman belahan bambu), papan atau tembok, dan atapnya
berupa anyaman daun kelapa kering (blarak), atau dari genting. Rumah khas Jawa
didirikan menurut sistem kerangka tertentu sehingga membentuk bangunan persegi[16].
Menurut suatu naskah tentang rumah
Jawa koleksi museum pusat Dep. P&K No.Inv.B.G.608 disebutkan bahwa rumah
orang Jawa pada mulanya dibuat dari bahan batu, teknik penyusunannya seperti
batu-batu candi. Tetapi bukan berarti rumah orang Jawa meniru bentuk candi[17].
Menurut Dakung (1982), Ismunandar
(1986), Hamzuri (tanpa tahun), bersumber dari Mintobudoyo, bahwa ada 5 bentuk
dasar rumah Jawa yaitu Panggang Pe, Kampung, Limasan, Joglo dan Tajug. Bentuk
yang paling sederhana adalah bentuk Panggang Pe, terdiri dari satu ruangan
terbuka dengan atap satu bidang datar yang dipasang miring satu arah.
Penggunaan rumah bentuk ini sifatnya sementara misalnya sebagai tempat
istirahat petani di sawah[18]. Bentuk rumah yang banyak di gunakan
masyarakat Jawa pada umumnya adalah rumah berbentuk limasan, sementara dikalangan
bangsawan berbentuk joglo.
Rumah tinggal di daerah Yogyakarta
dan Surakarta kebanyakan menghadap ke Selatan. Begitu juga dengan arah tidur.
Hal ini di maksudkan untuk menghormati Nyai Roro Kidul yang menurut kepercayaan
masyarakat sekitar bahwa Nyai Roro Kidul bersemayam di laut selatan. Semakin
jauh tempat suatu rumah dari pusat keraton (kebudayaan Jawa) kebiasaan ini
makin ditinggalkan, seperti yang terjadi di daerah Somoroto, Ponorogo
(Setiawan,1991)[19].
3. Bahasa/Sastra
Dari segi bahasa, masayarkat Jawa
mengenal ada dua macam bahasa jika dilihat dari segi tingkatannya, yaitu bahasa
Jawa Ngoko dan Krama. Bahasa Jawa Ngoko digunakan untuk berkomunikasi dengan
orang yang sudah dikenal akrab dan lebih muda usianya serta status sosialnya
lebih rendah. Sedangkan bahasa Jawa Krama adalah kebalikan dari bahasa Jawa
Ngoko. Dilihat dari sejarah perkembangan ajaran tata karma di Jawa, pada masa
pemerintahan Sultan Agung mulai diberlakukan tingkatan dalam penggunaan bahasa
Jawa yaitu, karma inggil (tata bicara yang bertaraf tinggi/halus), karma madya
(tata bicara yang bertaraf tengah), dan karma ngoko (tata bicara bertaraf umum)[20].
Semakin mendekati daerah Kraton,
maka bahasa yang digunakan semakin halus. Hal ini di karenakan perkembangan
bahasa di lingkungan Kraton didasarkan pada kedudukan sosial masayarakat Jawa[21].
Dalam masyarakat Jawa, raja menduduki status sosial yang paling atas.
4. Agama
Sebelum kedatangan bangsa India
dengan membawa kepercayaan Hindu/Budha dan kedatangan Islam yang di bawa oleh
ulama sufi, masyarakat Jawa memiliki kepercayaan animism-Dinamisme, yaitu
kepercayaan akan adanya kekuatan magis dan pemujaan terhadap ruh leluhur.
Kemudian setelah datangnya bangsa India dengan membawa ajaran Hindu/Budha,
masyarakat Jawa dengan mudah menerima ajaran tersebut dikarenakan adanya
kesesuaian antara kepercayaan penduduk setempat dengan ajaran Hindu/Budha,
dimana sama-sama bernuansa magis-mistis. Hal ini menyebabkan perkembangan agama
Hindu/Budha sangat pesat serta mengakar di segala aspek kehidupan. Namun tidak
semua ajaran Hindu/Budha diserap oleh masyarakat Jawa, masyarakat Jawa masih
memegang erat kepercayaan mereka kemudian mengakulturasinya dengan ajaran baru
tersebut, terutama didaerah Kraton, sehingga munculnya nuansa baru dalam
kehidupan masayarakat Jawa yaitu Hindu-Kejawen.
Islam masuk ke tanah Jawa di bawa
oleh Ulama Sufi (mistik Islam). Pada awalnya, perkembangan Islam di Jawa sangat
lambat sekali terutama di lingkungan kerajaan/kraton. Hal ini dikarenakan
masyarakat yang tinggal di lingkungan Kraton sangat memegang erat kepercayaan
Hindu-Kejawen. Oleh karena itu, para sufi mendakwahkan Islam dimulai dari
daerah pesisir Jawa. Dari sini ajaran Islam mulai berkembang, ulama-ulama sufi
mendirikan pesantren-pesantren untuk mengajarkan Islam pada Masyarakat sekitar.
Puncak dari keberhasilan dakwah Islam di Jawa ditandai dengan berhasilnya
dibangun kerajaan Islam pertama di pulau Jawa, yaitu kerajaan Demak dengan raja
pertama Raden Patah.
5.
Upacara/ritual-ritual
Dalam
masayarkat Jawa dikenal banyak sekali uapaca atau ritual-ritual. Upacara atau
ritual yang dilakukan oleh masyarakat Jawa pada umumnya bertujuan untuk menolok
bala atau bencana yang sudah tidak diketahui cara mengatasinya. Ritual-ritual
semacam ini sering juga disebut dengan selametan. Adapun ritual-ritual yang sering dilakukan
masyarakat Jawa antara lain:
1. Upacara
selametan kehamilan 7 bulan yang disebut mitoni. Mitoni dilakukan dengan maksud
agar anak yang lahir normal dan agar sang ibu lancar ketika proses persalinan.
Masyarakat Jawa tidak hanya melakukan selametan ketika usia kehamilan mencapai
7 bulan, bahkan ada yang melakukan selametan ketika usia 3 bulan. Ada juga
ketika usia kandungan 9 bulan dengan tujuan calon bayi cepat lahir. Tidak
sampai di situ, upacara selametan juga dilakukan ketika sang bayi lahir.
2. Ritual
pernikahan. Untuk menghindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan baik ketika
proses perkawinan berlangsung dan dalam membangun rumah tangga nantinya,
masyarakat Jawa melakukan beberapa ritual di antaranya:
a. Pasang
tarub. Tarub dipasang di halaman depan menyimbolkan hal utama yang dilakukan
oleh keluarga pengantin yaitu usaha dari keluarga pengantin terutama orang
tuanya untuk mendekatkan diri(taqarub) kepada Gusti Allah agar terhidar dari
bencana ketika proses perkawinan berlangsung maupun ketika membina rumah
tangga. Hal ini dibarengi dengan berdo’a, bersedekah atau hajatan.[22]
b. Tarub
yang dipasang berupa pisang raja, tebu, cengkir, daun alang-alang dan daun
kluwih memiliki makna pengajaran bagi pengantin. Pisang raja menyimbolkan
keinginan dari orang tua pengantin agar anaknya bahagia seperti raja. Tebu
(anteping kalbu), maksudnya bahwa pernikahan yang dilakukan sudah dipikirkan
secara matang dan dengan keteguhan hati dan kencenging piker(cengkir). Berharap
mempunyai kelebihan dalam berbagai hal “linuwih”(daun kluwih) dan tidak ada
halangan dalam membangun rumah tangga(daun alang-alang)
Selain itu, ada juga acara
“panggih” (pertemuan antara pengantin laki-laki dan perempuan setelah ijab
qabul). Ada beberapa symbol dalam acara ini, diantaranya:
a. Saling
melempar sirih, memberi pengajaran kepada pengantin bahwa dalam membnagun rumah
tangga harus saling mengasihi, pengertian, dan saling membantu agar keluarga
harmonis dan tujuan dari pernikahan tercapai.
b. Menginjak
telur (di Surakarta) atau menempelkan telur pada dahi (di Jogjakarta)
mengartikan bahwa adanya pergantian dari masa lajang ke kehidupan suami istri.
Acara ini dilanjutkan dengan pembasuhan kaki pengantin laki-laki oleh istrinya,
dengan maksud sebagai bakti suami pada istrinya.
c. Kacar
kucur, dilakukan dengan mengucurkan uang receh oleh pengantin laki-laki
kepangkuan istrinya memberikan makna bahwa suami menyerahkan pengaturan
keuangan pada istrinya dan memberikan makna bahwa tugas suami adalah memberikan
nafkah pada istrinya. Setelah proses kacar kucur oleh sang suami, sang istri
menyerahkan uang tersebut kepada ibunya dengan maksud agar mendapat pengarahan
dari ibunya.
3. Ritual
pada kematian, yaitu ritual yang dilakukan untuk orang yang sudah meninggal
dengan tujuan untuk membantu arwah orang yang sudah meninggal agar mendapat
kesenangan dan kembali pada asal kejadian dengan sempurna.
Selain ritual-ritual di atas, ada
juga ritual-ritual berupa pemberian sesaji dalam bentuk sajen kanggo sing
mbahureksa, mbahe atau danyang yang berdiam di pohon-pohon beringin atau pohon
besar yang berusia tua, atau tempat-tempat yang di anggap kramat. Ada juga
ritual yang di adakan dengan tujuan memperoleh kesejahteraan ekonomi seperti
upacara wiwit sebagai pemujaan pada Dewi padi, yaitu Dewi Sri bagi masyarakat
pedalaman yang bermata pencaharian petani. Sedangkan untuk masyarakat pesisir
ada ritual berupa pemberian sesaji berupa kepala kerbau yanh disebut dengan
upacara ngelarung.
6. Kesenian
Masyarakat Jawa
mengenal berbagai macam kesenian sebagai pertunjukan atau hiburan. Di antaranya
adalah tari jaranan di Kediri, tari gandrung di Banyuwangi, kesenian ludruk
dari Surabaya. Selain itu ada juga tari topeng, pertunjukan wayang kulit atau
wayang orang, tayuban, wayang krucil, kethoprak, reyog, barongan dan lain
sebagainya. Biasanya dalam banyak pertunjukan kesenian Jawa diiringi dengan
gamelan Jawa.
G. PENUTUP
Orang jawa adalah orang yang bahasa
ibunya adalah bahasa jawa adalah bahasa jawa dengan ragam dialeknya. Suku
bangsa jawa adalah mereka yang bertempat tinggal di daerah Jawa Tengah dan Jawa
Timur, serta mereka yang berasal dari kedua daerah tersebut. karakteristik
orang jawa: menjunjung kebersamaan, suka kemitraan, mementingkan kesopanan,ahli
musim, pertimbangan religious, hormat pada pemimpin, hidup pasrah, cinta
seni, dekat alam.Pada umumnya orang jawa
bersifat sederhana, dan sulit untuk ditebak isi hatinya.
Budaya jawa memiliki berbagai
karakteristik, dari segi bahasa dikenal unggah-ungguh, sopan santu dalam
berbahasa. Kalau dengan orang lebih tua maka menggunakan kromo inggil, yang
biasa digunakan dilingkungan Kraton Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta.
Sementara bahasa dengan sesama menggunakan ngoko.dari segi kepercayaan, budaya
Jawa sudah ada sejak zaman prasejarah, dengan bertumpu pada dasar pemikiran
animism-dinamisme yang mistik. Seiring berjalannya waktu, pengaruh Islam sangat
besar terhadap perkembangan tradisi Jawa dengan perpaduan nilai-nilai Islami.
Dari segi tradisi, Jawa memiliki beragama ritual-ritual sebagai wadah pemersatu
dan memperkokoh persaudaraan serta melestarikan budaya leluhur.
Sedangkan kebudayaan jawa sendiri adalah
serangkaian tradisi atau warisan , tata hidup, kelakuan, dan sebagainya yang
berkembang di daerah jawa. Atau biasa di kenal dengan istilah kejawen dalam
bahasa Indonesia yaitu segala yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan jawa
(kejawaan).
Setiap wilayah memiliki ciri-ciri budaya
tersendiri, diantaranya di daerah Solo dan Yogyakarta mempunyai corak khususnya
yang bersumber dari budaya Kraton, di daerah ponorogo khas dengan reognya,
daerah Brebes dengan Topeng Brebes, di Semarang dengan tradisi Dugderan, dan
Pekalongan dengan kota Batiknya. Begitupula dengan daerah-daerah lain yang ada
di wilayah Jawa masing-masingnya memiliki ciri-ciri tersendiri.
Pada dasarnya, anatara kebudayaan
di daerah pesisir dan kraton Jawa hampir mendekati mirip bahkan bisa di
katakana sama. dari penjelasan tentang jenis-jenis kebudayaan di atas, sangat
sulit untuk menidentifikasi letak perbedaan antara kebudayaan Jawa pesisiran
dan kebudayaan di Kraton. Namun hal ini bukan berarti perbedaan itu tidak ada.
Kebudayaan disekitar Kraton sangat
kental akan Jawanya dan sangat kuat dalam mempertahankan budaya Jawa asli
walaupun lama-kelamaan terjadinya akulturasi budaya dengan bangsa luar, baik
itu dari Bangsa India, Arab dan bahkan Eropa. Berebeda dengan Jawa pesisiran
yang sangat cepat menerima kebudayaan dari luar, hal ini di karenakan selain
karena jauhnya dari Kraton yang menjadi poros kebudayaan, juga karena daerah
pesisiran adalah tempat pertama bagi bangsa dari luar ketika memasuki pulau
Jawa, baik dengan tujuan berdagang atau tujuan lainnya.
Dilihat dari segi mata pencaharian,
masyarakat pesisir sebagaian besar menjadi petani sedangkan untuk masyarakat
pedalaman Jawa mencukupi kebutuhan hidup dengan bercocok tanam. Dari segi
bahasa, di daerah Kraton terkenal dengan bahasa yang halus dan sopan (karma
inggil), sedangkan di daerah pesisiran, bahasanya sedikit keras dan kasar
(karma ngoko). Untuk rumah di daerah kraton Jogakarta dan Solo sebagian besar menghadap
ke selatan, begitu juga dengan arah tempat tidur. Semakin jauh suatu wilayah
dari kraton Jogakarta dan solo, maka adat membangun rumah dan tempat tidur ke
arah selatan semakin ditinggalkan. Dan untuk Agama di sekitar kraton sangat
khas dan kental akan kejawennya.
DAFTAR PUSTAKA :
-
Abimanyu Soedjipto, Babad Tanah Jawi, Jogjakarta: Laksana,
2014.
-
Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta:
Djambatan, 2002.
-
Ricklefs, Mengislamkan Jawa, Jakarta: PT Serambi
Ilmu Semesta, 2013.
-
Suhandjati Sri, Islam dan Kebudayaan Jawa Revitalisasi
Kearifan Lokal, Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015.
-
Sutiyono, Poros Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Graha
Ilmu, 2013.
-
Syam Nur, Islam Pesisir, Yogyakarta: LKiS
Yogyakarta, 2005.
-
J. Lukito Kartono.
(2005). Konsep Ruang Tradisional Jawa dalam Konteks Budaya. Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan
Desain – Universitas Kristen Petra http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/. Vol. 3(2). 13 halaman. Tersedia: http://dimensiinterior.petra.ac.id. [16 Maret 2017].
[1]Yana MH, Falsafah dan Pandangan Hidup Orang Jawa,
Yogyakarta: Absolut, 2010 ,h. 15.
[2]Yana MH, Falsafah dan Pandangan
Hidup Orang Jawa, Yogyakarta: Absolute,2010.h. 29
[3]Suwardi
Endraswara, Falsafah Kepemimpinan Jawa, Yogyakarta: Narasi, 2013, h.
225.
[4]Yana MH. Falsafah dan Pandangan Hidup Orang Jawa.
Hal.42.
[5]Yana MH. Falsafah dan Pandangan Hidup Orang Jawa.
Hal. 30
[6]Samidi
Khalim. Islam dan Spiritualitas Jawa.
Hal.50.
[7]Samidi
Khalim. Islam dan Spiritualitas Jawa.
Hal.51.
[8]Prof DR
Sri suhandjati,islam dan kebudayaan jawa revitalisasi kearifan
lokal,semarang,cv.karya abadi jaya,2015,h 25
[9]Agus
sutiyono M.ag.,M.pd,kearifan budaya jawa pada ritual keagamaan,semarang.2014,h
65
[10]Prof DR
Sri suhandjati, islam dan kebudayaan jawa revitelisasi kearifan lokal,semarang,cv,karya
abadi jaya,2015,h 25
[11]http://irwan-wicaksono.blogspot/kebudayaan-jawa-timur.
[12]http://kamenchandra.blogspot/kesenian-kabupaten-brebes.
[13]http://suryawisatapkl.blogspot/kumpulan-budaya-pekalonganjawa.
[14]Ibid,
hlm 334.
[15]Dr. Nur
Syam, Islam Pesisir, Yogyakarta: LKiS
Yogyakarta, 2005, hlm xi.
[16]Ibid,
hlm 331.
Budaya. Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain –
Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/.
Vol. 3(2). 13 halaman. Tersedia: http://dimensiinterior.petra.ac.id.
[16 Maret 2017].
[18]Ibid,
hlm 128.
[19]Ibid,
hlm 132.
[20]Ibid hlm
30.
[21]Ibid hlm
25.
[22]Ibid,
hlm 48.
Komentar
Posting Komentar