ISLAM DAN BUDAYA JAWA “Orang Jawa dan Budayanya”




Disusun oleh :
Agus Zaenul Mutaqin 
Dedeh Kurniasih         
Reza Maulana             
Muhammad Izzan F.   
Beni Irawan                

A.     PENDAHULUAN
Indonesia merupakan sebuah negara yang terdiri dari berbagai pulau yang terdiri dari banyak pulau baik yang besar maupun pulau – pulau yang kecil ,baik yang berpenghuni maupun yang tak berpenghuni. Selain terdapat banyak pulau yang tersebar di nusantara , Indonesia juga mememiliki banyak suku ,salah satu nya yaitu suku Jawa.
Orang-orang Jawa memiliki berbagai macam kultur yang sangat beragam dan merupakan suatu kesatuan masyarakat  yang diikat oleh norma-norma hidup secara histori, tradisi, maupun agama. Di dalam pergaulan hidup maupun hubungan sosial sehari-hari mereka berbahasa Jawa. Pada waktu mengucapkan bahasa daerah ini pun mereka harus memperhatiksn siapa lawan bicaranya, dan harus menyesuaikan kriteria bahasa yang harus digunakan. Kepribadian masyarakat Jawa yang lembut dan penuh dengan toleransi merupakan hal sederhana yang biasa mereka lakukan. Namun akan menjadi pokok terpenting pada karakteristik masyarakat Jawa dalam bersosialisasi di lingkungan hidupnya.

B.     DEFINISI DAN CIRI-CIRI ORANG JAWA
Jawa adalah orang yang menggunakan bahasa harian nya ,atau bahasa keseharian nya yang digunakan adalah bahasa jawa. Bahasa Jawa yang digunakan orang jawa pun memiliki logat (gaya bahasa) sendiri, seperti bahasa jawa logat Ngapak yang sering digunakan untuk daerah Tegal dan sekitar nya..[1]
Orang jawa secara umum memiliki tempat tinggal di pulau Jawa dan merupakan penduduk asli pulau Jawa bagian tengah dan timur. Namun seiring dengan program pemerintah yaitu Transmigrasi orang-orang jawa tidak hanya tinggal di pulau Jawa namun juga tinggal di banyak pulau seperti pulau Sumatera, pulau Kalimantan, dan mereka mulai menetap di sana dan memiliki keturunan disana.
Orang Jawa secara umum memiliki ciri-ciri dari berbagai segi seperti hal nya dari nama memiliki ciri yang khas yang tersendiri. Ciri dari orang jawa seperti berikut :


1.      Nama
Orang Jawa memiliki ciri khas tersendiri dari segi pemberian nama. Anak-anak meraka.[2]Orang Jawa sering kali memberi nama berdasarkan jenis kelamin mereka. Untuk anak laki-laki seperti Nanang, Joko, Ibnu, dan masih banyak lagi. Dan untuk anak perempuan mereka seperti Putri, Siti, Ayu, Ajeng, dan masih banyak lagi.
2.      Kegiatan Sehari-hari
Orang Jawa memiliki budaya sosialisme keseharian dalam keseharian nyaYaitu Gotong Royong. Gotong Royong merupakan sikap sosialisme yang sangat menonjol pada masyaakat Jawa, yaitu kerja sama, bahu-membahu dan saling membantu sesama pada segala bentuk kegiatan kemasyarakatan.
3.      Landasan Kepemimpinan
Orang Jawa memeliki landasan kepemimpinan dalam kehidupan Sehari-hari nya yaitu Asah,Asih,Asuh. Merupakan landasan kepemimpinan yang sesuai dengan nilai-nilai kejawaan.[3] Kata asih berkaitan dengan pelayanan kasih, saling memberi dan menerima, perhatian, persahabatan dan hubungan baik dengan sesama. Kata asah, berarti menggosok agar tajam, termasuk pikiran. Hal ini berhubungan dengan pengembangan pribadi, bimbingan, pendidikan, dan bantuan lain untuk eksistensi karir dan kontribusi social. Sedangkan asuh, atau kata lainnya adalah ngemong, berkaitan dengan pemeliharaan, perawatan, dan dukungan sehingga orang lain tetap tegak berdiri serta menjalani hidupnya secara sehat
4.      Budaya
Dari sudut pandang budaya orang jawa memiliki ciri khas. Tersendiri dari tiap-tiap wilayah nya, namun demikian tak sedikit pula bentuk kebudayaan nya. Contoh bentuk kebudayaan yang hampir mirip satu daerah dengan daerah lain yaitu budaya Barong. Di Blora memiliki budaya Barongan sama seperti hal nya dengan Kendal , namun dari segi permainan dan segi bentuk dari dua budaya ini berbeda namun budaya ini memiliki cerita yang sama yaitu cerita Panji Asmoro Bangun.


C.    KARAKTERISTIK ORANG JAWA
1.      Bahasa
Dalam falsafah Jawa, jining diri soko lathi, berarti harga diri seseorang diantaranya tergantung pada mulut,dan bahasanya. Kata-kata yang fasih, manis, dan empan papan (tahu kondisi dan kondisi) akan menyenangkan hati. Sedangkan perkataan yang kotor akan menyakiti hati orang lain    Sumber malapetaka seseorang kebanyakan dari lidah yang tidak terkendali.[4] Untuk itu , dalam bahasa jawa dikenal unggah-ungguh, sopan santu dalam berbahasa. Kalau dengan orang lebih tua maka menggunakan kromo inggil, yang biasa digunakan dilingkungan Kraton Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta. Sementara bahasa dengan sesama menggunakan ngoko. Orang Jawa sangat  menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada di masyarakat, karena nilai-nilai itu merupakan bagian dari wujud  abstraksi kebudayaan Jawa yang menjadi pedoman perilaku manusia.
Dalam penggunaan bahasa Jawa, orang Jawa dalam membedakan nama biasanya memberikan akhiran o, a, man,no, dan wan untuk laki-laki, dan I wati, ni, ah, yem, nah, atau sih untuk perempuan.[5]
2.      Spiritual Atau Kepercayaan
Simbol budaya berikutnya tercermin dalam ritus orang keramat, roh dan selametan sehingga sering diidentikkan dengan budaya magis atau mistik. Mistik Jawa lebih dikenal dengan istilah kebatinan. Dalam KBBI, memiliki kata dasar batin (arab) yang berarti didalam, mendapat imbuhan ke-an menjadi kebatinan yang berarti bagian tertutup di dalam. Secara harfiah, kebatinan adalah suatu yang tersembunyi, kebenaran dibalik kebenaran atau kebenaran yang terdalam.
Budaya Jawa sudah ada sejak zaman prasejarah, dengan bertumpu pada dasar pemikiran animism-dinamisme. Yaitu adanya kepercayaan tentang kekuatan atau energy yang mendiami benda-benda (keramat) dan adanya roh-roh halus (termasuk arwah leluhur) yang menempati alam sekeliling.
Dalam religi Jawa ini juga terdapat adanya kepercayaan bahwa bagi sebagian manusia mampu mengadakan kontak langsung dengan alam arwah tau dunia ghaib. Bahkan manusia dapat mengendalikan alam arwh tersebut dengan kekuatan gaib untuk keperlun mereka dan spiritual mereka. Bentuk kontak dengan alam gaib bagi masyarakat Jawa ini diekspresikan dengan upacara-upacara ritual pemujaan terhadap sesuatu yang dianggap sacral (kramat) dengan aksesoris berupa sesaji, pembacaan mantra-mantra, dan menggunakan mediator yang memiliki kemampuan spiritual tertentu.
Ritus-ritus ini adalah warisan dasar budaya Jawa yang terus mengakar, walaupun sekarang ritus ini telah diisi dengan dimensi keagamaan yang sangat kental. Walau demikian , ritus-ritus keramat tetap menjadi “agama jawa” yang mampu mengakomodasi spirit Hindu India dengan spirit Islam yang diakulturasikan dengan budaya Jawa. Kepercayaan mistik orang jawa banyak dijumpai di lingkungan istana (kerajaan) yang bersendikan nilai-nilai agama. Sehingga, secara historis mistik jawa yana(kebatinan) diartikan sebagai kebudayaan spiritual dari Kraton Jawa, yang sering dikenal dengan istilah Agama ageing Aji, Kawruh kawruhing Ratu (Warsito,1973:19).[6] Para penganut mistik dituntut untuk menjadi manusia yang Sepi ing Pamrih, rame ing gawe dan ikut memayu hayuning bawana (banyak bekerja bakti dengan tanpa mementingkan keuntungan pribadi dan ikut membentuk dunia yang indah dan makmur), inilah yang menjadi pedoman dan falsafah aliran-aliran kebatinan (HM. Rasjidi1992: 65).[7]
Harmoni social bukan sekedar tercipta dengan ruang gerak fisikal, tetapi juga melalui jalan metafisik-spiritual yang menggelora nurani dalam kesatuan tunggal. Dalam istilah jawanya yaitu “Manunggaling kawula-Gusti” sebagai tujuan tertinggi untuk mencapai kesatuan dengan realitas tertinggi (Tuhan). Jalan mencapai penghayatan melalui manekun amuntu Samadhi, yaitu membaca rumusan kata-kata yang dianggap memiliki daya magis, yang mampu menyatukan jiwa manusia dengan dzat Tuhan. Orang yang ingin memproleh penghayatan ini yaitu mereka yang mengetahui hakikat manusia itu sendiri, kemana setelah manusia hidup di dunia ini (sangkan paraning dumadi).
Seiring berjalannya waktu, pengaruh Islam sangat besar terhadap perkembangan tradisi Jawa yang tercermin dengan munculnya aliran-aliran kebatinan, terilihat dengan partisipasinya dalam hidup jawa. Dalam hal-hal duniawi sikap hidupnya senada dengan ajaran tasawuf, seperti: sikap rila, narima, waspada, eling, sabar, dll. Pandangan hidup masyarakat Jawa sebelumnya bersifat mistik dapat sejalan, untuk kemudian mengakui Islam-tasawuf sebagai keyakinan mereka. Ciri pelaksanaan tasawuf yan menekankan pada berbagai latihan spiritual, seperti dzikir dan puasa, berulang kali disampaikan dalam karya-karya sastra.
Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase lwn kas, tegese kas nyamkosani. Setya budya pangekese dur angkara.
Artinya: Ngelmu (ilmu) itu hanya dapat dicapai dengan laku (mujahadah), dimulai dengan niat yang teguh, arti kas menjadi sentosa. Iman yang teguh untuk mengatasi segala godaan rintangan dan kejahatan.
3.      Adat Istiadat Atau Tradisi
Social dalam budaya Jawa harus ditegakkan untuk menyangga struktur tubuh Nusantara yang sedang dibalut berbagai penyakit social yang berkecamuk. Dalam mengikat kebersamaan simpul budaya Jawa tersimpul dalam tradisi nyadran. Yang termaktub dalam falsafah “mangan ra mangan kumpu”l. Karena semakin kuat kebersamaannya, maka “wonten sekedek dipundum sekedek, wonten katah inggih dipundum katah”. Serta dalam penciptaan social yang utuh, dalam simpul falsafah jawa dalam gotong royong mengedepankan sifat “sepo ing pamrih, rame ing gawe”. Yaitu semangat bekerja dan aktivitas tanpa ingin dipuji atau dibangga-banggakan.
Tradisi Nyadran ini merupakan  salah satu bentuk upacara mengagungkan arwah leluhur. Upacara ini melakukan berbagai macam sesaji di rumah-rumah. Adat ini dilakukan pada bulan ruwah (jawa) atau syaban (Islam) dengan berziarah kubur dengan membersihkan makam leluhur , memanjatkan doa kepada sang Kholik agar dosa-dosa leluhur diampuni, dan tabor bunga yang semuanya ini sebagai darma bakhti serta mandi suci untuk menyambut bulan Ramadhan.
Sejak awal, budaya jawa yang dihasilkan pada masa Hindu-Budha bersifat terbuka untuk menerima agama apapun dengan anggapan semua agama itu baik, sehingga disebutlah bahwa kebudayaan jawa ini bersifat sinkretis (bersifat momot atau memuat) guna memperkaya pandangan untuk menghadapi tantangan zaman.
Karakteristik dari budaya jawa lainnya, yaitu sangat bersifat teokratis. Yaitu masyarakat harus tunduk patuh terhadap raja-raja atau pemimpin dinasti yang diyakini sebagai titisan dewa atau Tuhan  agar mendapatkan keselamatan dunia akhirat, sedangkan kraton sebagai pusat simbolok dan fisik alam semesta. Kehidupan setiap orang jawa, dari kalangan petani sampai kalangan bangsawan aristocrat, diatur oleh hak istimewa raja.
Adapula tradisi slametan yang menjadi ritus mistik orang jawa, dilakukan sejak menyambut klahiran seorang bayi, khitanan, pernikahan, sampai orang meninggal. Slametan pada masa pra-Islam banyak menggnkan tradisi mistis mitodologis Hindu-Budha dengan berbagai macam sesaji, setelah Islam datang cukup dengan doa-doa yang dipanjatkan oleh seorang rais dan bacaan-bacaan ayat al-Quran dianggap telah sah.
Serta beberapa adat kejawen lainnya seperti meditasi atau semedi, melakukan tirakat, tapabrata, dan berbagai puasa kejawen. Dalam sejarah manapun tidak ada agama yang lahir  diruang “hampa budaya” yang “ujug-ujug” tanpa ada latar belakangnya. Puasa bagi orang jawa sudah menjadi sebuah bagian kehidupan manusia, bahkan sebelum datannya Islam ketanah Jawa. Tradisi puasa sudah dengan berbagai tujuan , seperti halnya “puasa mutih” (hanya  makan nasi dan air putih yang hambar tak berasa), puasa ngrowot (hanya makn umbi-umbian), puasa “ngebleng” (puasa tidak makan-tidak minum dan tidak keluar kamar), atau puasa lainnya yang bertujuan agar anak-anak dan keluarganya hidup tentram lahir batin dalam bahasa jawa nya “urip mulyo”, tidak kekurangan sandang dan pangan, dapat jodoh yang baik dan harapan-harapan lain yang luas.
4.      Seni
Para tokoh masyarakat, memasukkan ajaran-ajaran agama serta nilai-nilai yang dianggap baik dalam dunia kesenian. Karena mengingat masyarakat jawa yang berkarakteristik menyukai kesenian, maka para tokoh masyarakat, ulama, pendeta, dan lainnya ikut berandil di kesenian. Seperti, adanya suluk wahdat wakidiyat karya Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana III, berbentuk tembang asmarandana terdiri dari 14 bait. Suluk ini mencerminkan Jawanisasi tasawuf (mistik Islam). Ada juga lewat pewayangan dengan mengajarkan nilai-nilai tauladan melalui peran tokoh-tokohnya. Dan dalam tradisi jawa juga terkenal dengan adanya symbol-simbol “laku” yang melibatkan benda-benda yang dianggap asli jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantra, penggunaan bunga-bunga tertentu,dsb.
Dalam teokratisnya budaya jawa, kraton merupakan simbolik dan fisik alam semesta. Gaya arsitektur dan tata letak keempat kraton didasari oleh prinsip yang berakar pada kosmologi Hindu-Jawa. Yang memiliki nilai simbolik yang penuh dengan kekuatan mistik fisik dan batin. Yang dimna dua istana Yogyakarta dan Surakarta itu menghadap ke gunung tempat para  dewa, sedangkan gerbang selatan menghadap kelaut, kediaman mistik nenek moyang.

D.     BUDAYA JAWA
Kebudayaan jawa adalah kebudayaan msyarakat asli jawa yang telah berkembang semenjak masa prasejarah sebagai halnya suku-suku sederhana lainya,budaya jawa ini bertumpu dari religi animisme dan dinamisme. Kebudayaan jawa sebuah sistem yang mencakup bahasa,sistem teknologi, mata pencaharian, organisasi sosial, corak berpikir,sistem keagamaan dan kesenian yang dianut dan di lestarikan secara turun temurun oleh masyarakat setempat.
Masyarakat jawa adalah orang-orang yang dalam hidup keseharianya menggunakan bahasa jawa dengan ragam yang dialeknya secara turun temurun.  Suku bangsa jawa adalah mereka yang bertempat tinggal di daerah jawa tengah,jawa timur,serta  mereka yang berasal dari kedua daerah tersebut. Secara geografis suku bangsa jawa mendiami tanah jawa yang meliputi: banyumas, kedu, yogyakarta, surakarta, madiun, malang, dan kediri. Sedangkan di luar itu dinamakan pesisir dan ujung timur.
Kebudayaan jawa dalam perwujudanya beraneka warna,seperti dalam bahasa terdapat banyak logatnya,demikian pula dalam kesenian,makanan maupun  bidang lainya.budaya jawa yang berkembang di daerah yogya dan solo mempunyai corak khusus yang bersumber dari budaya kraton. Selain di bidang seni dan sastranya,juga memiliki kecenderungan pada sinkretisme dalam kehidupan keagamaanya.sedangkan budaya jawa pesisiran lebih di warnai oleh ajaran islam seperti dalam kesususastraan maupun dalam pemahaman agamanya yang cenderung pada islam yang puritan.[8]
Fase fase perkembangan budaya jawa untuk  melihat sejauh mana pergumulan budaya jawa sebelum dan sesudah islam datang.hal ini penting di kaji untuk menguak sistem nilai dan karakteristik budaya jawa. [9]di dalam pergaulan-pergaulan hidup maupun perhubungan perhubungan sosial sehari hari mereka berbahasa jawa,ada dua macam bahasa jawa yaitu bahasa jawa ngoko dan krama. Bahasa jawa ngoko di pakai oleh orang yang sudah di kenal akrab, dan terhadap orang yang lebih muda usianya serta lebih rendah status sosialnya. Sebaliknya bahasa jawa krama di gunakan untuk berbicara kepada orang yang belum akrab,tetapi sebaya atau seumur sederajat,serta kepada orang yang lebih tua dari kita atau lebih tinggi status sosialnya.
Secara kodrati budaya jawa seperti halnya budaya lainya akan selalu mengalami proses perubahan atau perkebangan dalam arti yang luas. Pengembangan nilai budaya jawa merupakan upaya secara sadar untuk secara terus menerus meningkatkan kualitasnya. Bahasa jawa misalnya, perkembanganya sangat jauh sehingga menjadi bahasa yang tak tertandingi  oleh bahasa manapun,terutama mengenai kekayaan kosakatanya.

E.     WILAYAH DAN CIRI-CIRI BUDAYA JAWA
Franz Magnis Suseno mengemukakan bahwa kebudayaan jawa adalah hasil ciptaan orang jawa. Sedangkan yang disebut orang jawa adalah penduduk asli yang tinggal di jawa tengah dan jawa timur dan menggunakan bahasa jawa. Diantara mereka atau keturunannya ada yang kemudian pindah ke tempat lain, dan tetap menjaga adat istiadat jawa dimana pun mereka berada.
Dengan demikian, unsur budaya yang mempunyai ciri kebudayaan jawa, tetap disebut sebagai budaya jawa meskipun tempat berkembangnya di luar jawa atau diluar negeri. 
Wilayah dan ciri budaya jawa di indonesia :
1.      Solo dan yogyakarta
Budaya jawa yang berkembang di daerah solo dan yogya mempunyai corak khususnya yang bersumber dari budaya kraton. Budaya jawa yang berkembang di kraton juga dikenal lebih halus karena terikat dengan unggah-unggah atau tatakrama yang dibuat oleh raja atau pujangga kraton.[10]

2.      Ponorogo
Didaerah ponorogo ini terdapat budaya yang sangat khas yaitu reog. Reog yang sempat diklaim sebagai tarian dari malaysia merupakan kesenian khas daerah ponorogo yang telah dipatenkan sejak tahun 2001, reog kini juga menjadi ikon kesenian jawa timur. Reog adalah salah satu budaya kesenian daerah yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu  kebatinan. Ciri khas daerah ponorogo ini adalah tarian reog.[11]

3.      Brebes
Daerah brebes ini juga mempunyai beberapa budaya yang sampai sekarang masih dilestarikan, salah satu kebudayaan tersebut adalah tari topeng brebes. Tari topeng brebes ini merupakan jenis yang berkembang di wilayah kabupaten brebes khusunya berkembang di kecamatan losari. Dan ciri khas daerah brebes ini yang paling terkenal adalah bawang merah dan telor asin.[12]

4.      Semarang
Adat istiadat semarang sangatlah kental. Salah satunya tradisi adat dari semarang adalah perayaan tradisi dugderan. Dari kebudayaan tersebut dapat melihat percampuran seluruh budaya yang ada di kota semarang. Perpaduan budaya tersebut dapat kita lihat pada warak endog, warak endog adalah boneka binatang raksasa yang merupakan mitodologis yang digambarkan sebagai sismbol akulturasi kebudayaan di kota semarang.

5.      Pekalongan
Pekalongan disebut juga dengan kota batik, kota batik tersebut menjadi ciri khas bagi kota pekalongan. Selain ciri khas tersebut, pekalongan juga mempunyai tradisi budaya yang sampai saat ini masih di selenggarakan. Tradisi kebudayaan tersebut adalah lopisan. Lopisan adalah upacara adat bagi umat islam yang berada di pekalongan dan sekitarnya, untuk menyaksikan lopis raksasa yang mempunyai ukuran diameter 150cm, berat 185 kg dan tinggi 110cm. Tradisi kebudayaan ini dilaksanakan satu minggu setelah hari raya idul fitri. Tradisi kebudayaan lopisan ini sudah dimulai sejak 130 an tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1855 M.[13]


F.      UNSUR BUDAYA JAWA
1.  Mata Pencaharian
Selain pekerjaan-pekerjaan kepegawaian, pertukangan, dan perdagangan sebagai sumber penghidupan bagi masayarkat Jawa, sebagian besar masyarakat Jawa di pedesaan menjadi petani. Untuk masyarkat yang di daerah pegunungan, mereka menggarap lahan pertaniannya untuk dijadikan kebun kering (tegalan), sedangkan untuk masyarakat yang berada di daerah yang lebih rendah, mengolah tanah-tanah pertanian mereka untuk dijadikan sawah[14]. Pada umumnya, jenis-jenis tanaman yang ditanam di persawahan berupa padi kemudian diselingi dengan tanaman palawija.
Smentara untuk masyarakat di daerah pesisir Jawa, sebagian besar menjadi nelayan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selain itu, wilayah pesisir ini memegang peran penting dalam membangun kontak dengan dunia luar seperti Hindu, Islam, kongsi dagang Eropa, dan kolonialisme[15]. Hal ini dikarenakan daerah pesisir Jawa merupakan jalur perdagangan dan tempat persinggahan bagi pedagang-pedagang dari luar Jawa.
2.   Bentuk Rumah
Pada zaman sekarang ini, sudah sangat jarang sekali ditemukan rumah-rumah khas Jawa. Hal ini selain dikarenakan tingginya biaya yang diperlukan untuk membangun rumah khas Jawa karena membutuhkan kayu yang lebih banyak dan juga disebabkan sulitnya menemukan bahan bangunan untuk mendirikan rumah khas Jawa..
Dipandang dari bahan dan bentuknya, maka ada beberapa macam rumah. Ada rumah yang yang dibangun memakai kerangka dari bambu, glugu (batang pohon nyiur) atau kayu jati; kemudian dindingnya dibuat dari gedek (anyaman belahan bambu), papan atau tembok, dan atapnya berupa anyaman daun kelapa kering (blarak), atau dari genting. Rumah khas Jawa didirikan menurut sistem kerangka tertentu sehingga membentuk bangunan persegi[16].
Menurut suatu naskah tentang rumah Jawa koleksi museum pusat Dep. P&K No.Inv.B.G.608 disebutkan bahwa rumah orang Jawa pada mulanya dibuat dari bahan batu, teknik penyusunannya seperti batu-batu candi. Tetapi bukan berarti rumah orang Jawa meniru bentuk candi[17].
Menurut Dakung (1982), Ismunandar (1986), Hamzuri (tanpa tahun), bersumber dari Mintobudoyo, bahwa ada 5 bentuk dasar rumah Jawa yaitu Panggang Pe, Kampung, Limasan, Joglo dan Tajug. Bentuk yang paling sederhana adalah bentuk Panggang Pe, terdiri dari satu ruangan terbuka dengan atap satu bidang datar yang dipasang miring satu arah. Penggunaan rumah bentuk ini sifatnya sementara misalnya sebagai tempat istirahat petani di sawah[18].  Bentuk rumah yang banyak di gunakan masyarakat Jawa pada umumnya adalah rumah berbentuk limasan, sementara dikalangan bangsawan berbentuk joglo.
Rumah tinggal di daerah Yogyakarta dan Surakarta kebanyakan menghadap ke Selatan. Begitu juga dengan arah tidur. Hal ini di maksudkan untuk menghormati Nyai Roro Kidul yang menurut kepercayaan masyarakat sekitar bahwa Nyai Roro Kidul bersemayam di laut selatan. Semakin jauh tempat suatu rumah dari pusat keraton (kebudayaan Jawa) kebiasaan ini makin ditinggalkan, seperti yang terjadi di daerah Somoroto, Ponorogo (Setiawan,1991)[19].
3.   Bahasa/Sastra
Dari segi bahasa, masayarkat Jawa mengenal ada dua macam bahasa jika dilihat dari segi tingkatannya, yaitu bahasa Jawa Ngoko dan Krama. Bahasa Jawa Ngoko digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang sudah dikenal akrab dan lebih muda usianya serta status sosialnya lebih rendah. Sedangkan bahasa Jawa Krama adalah kebalikan dari bahasa Jawa Ngoko. Dilihat dari sejarah perkembangan ajaran tata karma di Jawa, pada masa pemerintahan Sultan Agung mulai diberlakukan tingkatan dalam penggunaan bahasa Jawa yaitu, karma inggil (tata bicara yang bertaraf tinggi/halus), karma madya (tata bicara yang bertaraf tengah), dan karma ngoko (tata bicara bertaraf umum)[20].
Semakin mendekati daerah Kraton, maka bahasa yang digunakan semakin halus. Hal ini di karenakan perkembangan bahasa di lingkungan Kraton didasarkan pada kedudukan sosial masayarakat Jawa[21]. Dalam masyarakat Jawa, raja menduduki status sosial yang paling atas.
4.   Agama
Sebelum kedatangan bangsa India dengan membawa kepercayaan Hindu/Budha dan kedatangan Islam yang di bawa oleh ulama sufi, masyarakat Jawa memiliki kepercayaan animism-Dinamisme, yaitu kepercayaan akan adanya kekuatan magis dan pemujaan terhadap ruh leluhur. Kemudian setelah datangnya bangsa India dengan membawa ajaran Hindu/Budha, masyarakat Jawa dengan mudah menerima ajaran tersebut dikarenakan adanya kesesuaian antara kepercayaan penduduk setempat dengan ajaran Hindu/Budha, dimana sama-sama bernuansa magis-mistis. Hal ini menyebabkan perkembangan agama Hindu/Budha sangat pesat serta mengakar di segala aspek kehidupan. Namun tidak semua ajaran Hindu/Budha diserap oleh masyarakat Jawa, masyarakat Jawa masih memegang erat kepercayaan mereka kemudian mengakulturasinya dengan ajaran baru tersebut, terutama didaerah Kraton, sehingga munculnya nuansa baru dalam kehidupan masayarakat Jawa yaitu Hindu-Kejawen.
Islam masuk ke tanah Jawa di bawa oleh Ulama Sufi (mistik Islam). Pada awalnya, perkembangan Islam di Jawa sangat lambat sekali terutama di lingkungan kerajaan/kraton. Hal ini dikarenakan masyarakat yang tinggal di lingkungan Kraton sangat memegang erat kepercayaan Hindu-Kejawen. Oleh karena itu, para sufi mendakwahkan Islam dimulai dari daerah pesisir Jawa. Dari sini ajaran Islam mulai berkembang, ulama-ulama sufi mendirikan pesantren-pesantren untuk mengajarkan Islam pada Masyarakat sekitar. Puncak dari keberhasilan dakwah Islam di Jawa ditandai dengan berhasilnya dibangun kerajaan Islam pertama di pulau Jawa, yaitu kerajaan Demak dengan raja pertama Raden Patah.
5.  Upacara/ritual-ritual
Dalam masayarkat Jawa dikenal banyak sekali uapaca atau ritual-ritual. Upacara atau ritual yang dilakukan oleh masyarakat Jawa pada umumnya bertujuan untuk menolok bala atau bencana yang sudah tidak diketahui cara mengatasinya. Ritual-ritual semacam ini sering juga disebut dengan selametan.  Adapun ritual-ritual yang sering dilakukan masyarakat Jawa antara lain:
1.      Upacara selametan kehamilan 7 bulan yang disebut mitoni. Mitoni dilakukan dengan maksud agar anak yang lahir normal dan agar sang ibu lancar ketika proses persalinan. Masyarakat Jawa tidak hanya melakukan selametan ketika usia kehamilan mencapai 7 bulan, bahkan ada yang melakukan selametan ketika usia 3 bulan. Ada juga ketika usia kandungan 9 bulan dengan tujuan calon bayi cepat lahir. Tidak sampai di situ, upacara selametan juga dilakukan ketika sang bayi lahir.
2.      Ritual pernikahan. Untuk menghindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan baik ketika proses perkawinan berlangsung dan dalam membangun rumah tangga nantinya, masyarakat Jawa melakukan beberapa ritual di antaranya:
a.       Pasang tarub. Tarub dipasang di halaman depan menyimbolkan hal utama yang dilakukan oleh keluarga pengantin yaitu usaha dari keluarga pengantin terutama orang tuanya untuk mendekatkan diri(taqarub) kepada Gusti Allah agar terhidar dari bencana ketika proses perkawinan berlangsung maupun ketika membina rumah tangga. Hal ini dibarengi dengan berdo’a, bersedekah atau hajatan.[22]
b.      Tarub yang dipasang berupa pisang raja, tebu, cengkir, daun alang-alang dan daun kluwih memiliki makna pengajaran bagi pengantin. Pisang raja menyimbolkan keinginan dari orang tua pengantin agar anaknya bahagia seperti raja. Tebu (anteping kalbu), maksudnya bahwa pernikahan yang dilakukan sudah dipikirkan secara matang dan dengan keteguhan hati dan kencenging piker(cengkir). Berharap mempunyai kelebihan dalam berbagai hal “linuwih”(daun kluwih) dan tidak ada halangan dalam membangun rumah tangga(daun alang-alang)
Selain itu, ada juga acara “panggih” (pertemuan antara pengantin laki-laki dan perempuan setelah ijab qabul). Ada beberapa symbol dalam acara ini, diantaranya:
a.       Saling melempar sirih, memberi pengajaran kepada pengantin bahwa dalam membnagun rumah tangga harus saling mengasihi, pengertian, dan saling membantu agar keluarga harmonis dan tujuan dari pernikahan tercapai.
b.      Menginjak telur (di Surakarta) atau menempelkan telur pada dahi (di Jogjakarta) mengartikan bahwa adanya pergantian dari masa lajang ke kehidupan suami istri. Acara ini dilanjutkan dengan pembasuhan kaki pengantin laki-laki oleh istrinya, dengan maksud sebagai bakti suami pada istrinya.
c.       Kacar kucur, dilakukan dengan mengucurkan uang receh oleh pengantin laki-laki kepangkuan istrinya memberikan makna bahwa suami menyerahkan pengaturan keuangan pada istrinya dan memberikan makna bahwa tugas suami adalah memberikan nafkah pada istrinya. Setelah proses kacar kucur oleh sang suami, sang istri menyerahkan uang tersebut kepada ibunya dengan maksud agar mendapat pengarahan dari ibunya.
3.      Ritual pada kematian, yaitu ritual yang dilakukan untuk orang yang sudah meninggal dengan tujuan untuk membantu arwah orang yang sudah meninggal agar mendapat kesenangan dan kembali pada asal kejadian dengan sempurna.
Selain ritual-ritual di atas, ada juga ritual-ritual berupa pemberian sesaji dalam bentuk sajen kanggo sing mbahureksa, mbahe atau danyang yang berdiam di pohon-pohon beringin atau pohon besar yang berusia tua, atau tempat-tempat yang di anggap kramat. Ada juga ritual yang di adakan dengan tujuan memperoleh kesejahteraan ekonomi seperti upacara wiwit sebagai pemujaan pada Dewi padi, yaitu Dewi Sri bagi masyarakat pedalaman yang bermata pencaharian petani. Sedangkan untuk masyarakat pesisir ada ritual berupa pemberian sesaji berupa kepala kerbau yanh disebut dengan upacara ngelarung.
6.     Kesenian
Masyarakat Jawa mengenal berbagai macam kesenian sebagai pertunjukan atau hiburan. Di antaranya adalah tari jaranan di Kediri, tari gandrung di Banyuwangi, kesenian ludruk dari Surabaya. Selain itu ada juga tari topeng, pertunjukan wayang kulit atau wayang orang, tayuban, wayang krucil, kethoprak, reyog, barongan dan lain sebagainya. Biasanya dalam banyak pertunjukan kesenian Jawa diiringi dengan gamelan Jawa.
G.    PENUTUP
Orang jawa adalah orang yang bahasa ibunya adalah bahasa jawa adalah bahasa jawa dengan ragam dialeknya. Suku bangsa jawa adalah mereka yang bertempat tinggal di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta mereka yang berasal dari kedua daerah tersebut. karakteristik orang jawa: menjunjung kebersamaan, suka kemitraan, mementingkan kesopanan,ahli musim,  pertimbangan religious,  hormat pada pemimpin, hidup pasrah, cinta seni,  dekat alam.Pada umumnya orang jawa bersifat sederhana, dan sulit untuk ditebak isi hatinya.
Budaya jawa memiliki berbagai karakteristik, dari segi bahasa dikenal unggah-ungguh, sopan santu dalam berbahasa. Kalau dengan orang lebih tua maka menggunakan kromo inggil, yang biasa digunakan dilingkungan Kraton Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta. Sementara bahasa dengan sesama menggunakan ngoko.dari segi kepercayaan, budaya Jawa sudah ada sejak zaman prasejarah, dengan bertumpu pada dasar pemikiran animism-dinamisme yang mistik. Seiring berjalannya waktu, pengaruh Islam sangat besar terhadap perkembangan tradisi Jawa dengan perpaduan nilai-nilai Islami. Dari segi tradisi, Jawa memiliki beragama ritual-ritual sebagai wadah pemersatu dan memperkokoh persaudaraan serta melestarikan budaya leluhur.
Sedangkan kebudayaan jawa sendiri adalah serangkaian tradisi atau warisan , tata hidup, kelakuan, dan sebagainya yang berkembang di daerah jawa. Atau biasa di kenal dengan istilah kejawen dalam bahasa Indonesia yaitu segala yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan jawa (kejawaan).
Setiap wilayah memiliki ciri-ciri budaya tersendiri, diantaranya di daerah Solo dan Yogyakarta mempunyai corak khususnya yang bersumber dari budaya Kraton, di daerah ponorogo khas dengan reognya, daerah Brebes dengan Topeng Brebes, di Semarang dengan tradisi Dugderan, dan Pekalongan dengan kota Batiknya. Begitupula dengan daerah-daerah lain yang ada di wilayah Jawa masing-masingnya memiliki ciri-ciri tersendiri.
Pada dasarnya, anatara kebudayaan di daerah pesisir dan kraton Jawa hampir mendekati mirip bahkan bisa di katakana sama. dari penjelasan tentang jenis-jenis kebudayaan di atas, sangat sulit untuk menidentifikasi letak perbedaan antara kebudayaan Jawa pesisiran dan kebudayaan di Kraton. Namun hal ini bukan berarti perbedaan itu tidak ada.
Kebudayaan disekitar Kraton sangat kental akan Jawanya dan sangat kuat dalam mempertahankan budaya Jawa asli walaupun lama-kelamaan terjadinya akulturasi budaya dengan bangsa luar, baik itu dari Bangsa India, Arab dan bahkan Eropa. Berebeda dengan Jawa pesisiran yang sangat cepat menerima kebudayaan dari luar, hal ini di karenakan selain karena jauhnya dari Kraton yang menjadi poros kebudayaan, juga karena daerah pesisiran adalah tempat pertama bagi bangsa dari luar ketika memasuki pulau Jawa, baik dengan tujuan berdagang atau tujuan lainnya.
Dilihat dari segi mata pencaharian, masyarakat pesisir sebagaian besar menjadi petani sedangkan untuk masyarakat pedalaman Jawa mencukupi kebutuhan hidup dengan bercocok tanam. Dari segi bahasa, di daerah Kraton terkenal dengan bahasa yang halus dan sopan (karma inggil), sedangkan di daerah pesisiran, bahasanya sedikit keras dan kasar (karma ngoko). Untuk rumah di daerah kraton Jogakarta dan Solo sebagian besar menghadap ke selatan, begitu juga dengan arah tempat tidur. Semakin jauh suatu wilayah dari kraton Jogakarta dan solo, maka adat membangun rumah dan tempat tidur ke arah selatan semakin ditinggalkan. Dan untuk Agama di sekitar kraton sangat khas dan kental akan kejawennya.
DAFTAR PUSTAKA :
-          Abimanyu Soedjipto, Babad Tanah Jawi, Jogjakarta: Laksana, 2014.
-          Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Djambatan, 2002.
-          Ricklefs, Mengislamkan Jawa, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2013.
-          Suhandjati Sri, Islam dan Kebudayaan Jawa Revitalisasi Kearifan Lokal, Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015.
-          Sutiyono, Poros Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013.
-          Syam Nur, Islam Pesisir, Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2005.
-          J. Lukito Kartono. (2005). Konsep Ruang Tradisional Jawa dalam Konteks Budaya. Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/. Vol. 3(2). 13 halaman. Tersedia: http://dimensiinterior.petra.ac.id. [16 Maret 2017].




[1]Yana MH, Falsafah dan Pandangan Hidup Orang Jawa, Yogyakarta: Absolut, 2010 ,h. 15.
[2]Yana MH, Falsafah dan Pandangan Hidup Orang Jawa, Yogyakarta: Absolute,2010.h. 29
[3]Suwardi Endraswara, Falsafah Kepemimpinan Jawa, Yogyakarta: Narasi, 2013, h. 225.
[4]Yana MH. Falsafah dan Pandangan Hidup Orang Jawa. Hal.42.
[5]Yana MH. Falsafah dan Pandangan Hidup Orang Jawa. Hal. 30
[6]Samidi Khalim. Islam dan Spiritualitas Jawa. Hal.50.
[7]Samidi Khalim. Islam dan Spiritualitas Jawa. Hal.51.
[8]Prof DR Sri suhandjati,islam dan kebudayaan jawa revitalisasi kearifan lokal,semarang,cv.karya abadi jaya,2015,h 25
[9]Agus sutiyono M.ag.,M.pd,kearifan budaya jawa pada ritual keagamaan,semarang.2014,h 65
[10]Prof DR Sri suhandjati, islam dan kebudayaan jawa revitelisasi kearifan lokal,semarang,cv,karya abadi jaya,2015,h 25
[11]http://irwan-wicaksono.blogspot/kebudayaan-jawa-timur.
[12]http://kamenchandra.blogspot/kesenian-kabupaten-brebes.
[13]http://suryawisatapkl.blogspot/kumpulan-budaya-pekalonganjawa.
[14]Ibid, hlm 334.
[15]Dr. Nur Syam, Islam Pesisir, Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2005, hlm xi.
[16]Ibid, hlm 331.
[17]J. Lukito Kartono. (2005). Konsep Ruang Tradisional Jawa dalam Konteks
Budaya. Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/. Vol. 3(2). 13 halaman. Tersedia: http://dimensiinterior.petra.ac.id. [16 Maret 2017].
[18]Ibid, hlm 128.
[19]Ibid, hlm 132.
[20]Ibid hlm 30.
[21]Ibid hlm 25.
[22]Ibid, hlm 48.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INTERELASI NILAI ISLAM DAN JAWA DALAM RITUAL DAN KESENIAN

SEBAB-SEBAB PUDARNYA BUDAYA JAWA dan UPAYA PELESTARIANNYA

PERAN PESANTREN DALAM REVITALISASI BUDAYA JAWA DI ERA GLOBAL